SAKRAMEN DALAM KEPERCAYAAN ASLI INDONESIA
Oleh : Ade Nurpriatna
ABSTRAK
Sakremen
merupakan sistem atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang
berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang
biasanya terjadi dalam masyarakat, dalam mengatur siklus kehidupan sehari-hari
dalam interaksinya dengan Tuhan, seperti kelahiran, pernikahan, kematian, tanam
panen, dan lain sebagainya. Dan inti sakramen sebagai dimensi pengharapan baik keselamata dan
kesuksesan, dan dimensi syukur kepada
Tuhan.
Secara kultur sakramen sebagai adat istiadat
dalam masyarakat diakomodir sebagai tindakan kepercayaan atau agama yang
kaitannya dengan siklus kehidupan, seperti sakramen kelahiran, kematian,
perkawinan, tanam panen, kurban dan lain sebagainya.
Kata Kunci : Sakramen, kepercayaan, masyarakat
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Agama
dan kepercayaan dalam berbagai realitasnya merupakan simbol atau bentuk dari
apresiasi manusia terhadap sesuatu yang bersifat abstrak (ghaib) dan
selalu berhubungan dengan segala sesuatu yang mengandung mistik dan
supranatural[2].
Elizabet K. Nottingham berpendapat bahwa agama gejala yang sering
terjadi mana-mana yang kaitan dengan usaha manusia untuk mengukur dalamnya
makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam smesta, agama merupakan
suatu keyakinan yang dapat membangkitkan rasa kebahagiaan batin manusia dan
membangkitkan perasaan takut dalam dirinya[3]. Agama sebagai problem of ultimate concern, dalam arti bahwa
manusia memerlukan nilai-nilai mutlak sebagai pegangan dan jawaban terhadap
persoalan hidup dan mati[4].
Pada
hakikat agama dan kepercayaan merupakan suatu kepercayaan dan cara hidup
manusia, kepercayaan terhadap agama dibuktikan dengan berbagai ibadah (ritual).
Secara umum agama dan kepercayaan memiliki dua unsur, yaitu keyakinan terhadap
suatu yang supra natural, dan praktek
agama dalam bentuk sakramen atau ritual berdasarkan aturan dari agama dan kepercayaan[5].
Agama
asli indonesia adalah agama
lokal atau agama tradisional yang dipengaruhi oleh situasi-kondisi sosio-kultur
suatu daerah dalam bentuk aliran kepercayaan[6]. Aliran kepercayaan adalah suatu kepercayaan
manusia yang bersifat naluriah terhadap masalah ketuhanan, ritual dan
sebagainya[7]. Agama
sama halnya dengan kebudayaan merupakan transformasi symbolis pengalaman, juga merupakan sistem pertahanan dalam arti seperangkat kepercayaan dan sikap. Agama juga merupakan salah satu bentuk perlindungan budaya, dimana agama terlihat sebagai pusat kebudayaan dan penyaji aspek kebudayaan tertinggi dan suci[8].
Setiap
agama dan kepercayaan asli indonseia mempunyai
sakramen yaitu ritus dan upacara tertentu. Ritus dan upacara yang dilakukan
merupakan sarana untuk merefleksikan keyakinan terhadap suatu yang dianggap supra
natural. Dalam setiap ritus tertentu biasa terdapat unsur-unsur yang harus
dilakukan dan tidak boleh dilakukan[9].
B. Rumusan
Masalah
Masalah
yang akan dikaji dalam penulisan makalah ini, dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa hakikat sakramen dalam agama
atau kepercayaan?
2. Bagamana sakramen sebagai siklus
kehidupan dalam kepercayaan Indonesia?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
permasalahan yang telah dirumuskan, maka dalam penulisan makalah ini bertujuan
untuk :
1. Mengetahui hakikat sakramen dalam
agama dan kepercayaan di Indonesia.
2. Mengetahui sakramen sebagai
siklus kehidupan dalam kepercayaan Indonesia
BAB
II
SAKRAMEN
DALAM KEPERCAYAAN ASLI INDONESIA
A. Arti
Sakramen
Kata sakramen berasal dari bahasa latin, sacramentum
yang secara harfiah berarti menjadikan suci, istilah
sakramen kemudian digunakan oleh Gereja dalam pengertian harfiah untuk mensucikan segala yang dianggap
suci. Sakramen juga memiliki pengertian sumpah, salah
satu contoh penggunaan kata sacramentum adalah sebagai sebutan untuk sumpah bakti yang diikrarkan para prajurit Romawi. Kemudian secara makna sakramen adalah suatu paham tentang
misteri karena banyak hal yang tak dapat dipahami oleh manusia, dan mensucikan
sesuatu yang dianggap suci dengan memujanya[10].
Sakremen, ritual atau ceremony adalah sistem atau
rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam
masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya
terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan[11].
Dalam setiap ritual biasanya memiliki dua aspek, yaitu tujuan dan cara. Merupakan tujuan utama ritual adalah
bersyukur kepada Tuhan, tetpi ritual juga ada yang tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan
agar mendapatkan keselamatan dan rahmat; dan ada yang tujuannya meminta ampun
atas kesalahan yang dilakukan. Adapun dari segi cara, ritual dapat dibedakan
menjadi dua: individual dan kolektif. Sebagian ritual dilakukan secara
perorangan, bahkan ada yang dilakukan dengan mengisolasi diri dari keramaian,
seperti meditasi, bertapa, dan yoga. Ada pula ritual yang dilakukan secara
kolektif bersama-sama dalam pelaksanaanya[12].
Menurut R. Stark dan C.Y. Glock yang dikutip
Chalifah Jama’an, mereka mengatakan bahwa ritual mengacu pada seperangkat
ritus, tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang diwujudkan dalam
kebaktian, persekutuan suci, baptis, perkawinan dan semacamnya. Ketaatan dan
ritual bagaikan ikan dengan air. Apabila aspek ritual adalah komitmen formal
dan khas publik, maka ketaatan merupakan perangkat tindakan persembahan dan
kontemplasi personal, informal dan khas peribadatan yang diwujudkan melalui
sembahyang, membaca kitab suci dan ekspresi lain bersama-sama[13].
Sakramen atau ritual merupakan Upacara itu berfungsi mengkomunikasikan keyakinan kepada semua
orang dan sebagai perwujudan keyakinan, oleh karena itu keyakinan dan sakramen tidak
dapat dipisahkan dari suatu agama, dan sakramen inilah merupakan bentuk budaya
dalam sistem tindak dalam budaya dan kepercayaan[14].
Upacara-upacara pokok ini dalam kepercayaan tradisional
disebut juga dengan istilah slametan (Selamatan, kenduri). Ini merupakan
acara agama yang paling umum diantara kalangan orang Jawa dan melambangkan
persatuan mistik dan sosial dari orang-orang yang ikut serta dalam selamatan
itu[15].
Dalam tradisi kepercayaan asli indonesia, banyak terdapat
praktek-praktek sakramen atau upacara dalam kegiatan yang menyangkut kegiatan
keseharian serta kerohanian yang mereka jalani dalan kesehariannya, semua
ritual pada dasarnya merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan.
Sakramen-sakramen di masyarakat indonesia, seperti upacara kelahiran,
perkawinan, kematian, tanam dan panen, kurban dan lain sebagainya.
B.
Upacara kelahiran
Anak merupakan dambaan setiap orang tua, karena
anak merupakan kesempurnaan orang dalam rumah tangga. Pada hakikatnya, anak
merupakan amanah yang diberikan Tuhan yang berupa keahagiaan. Sebagai rasa
syukur atas dianugerahi anak, dalam kepercayaan di Indonesia terdapat tradisi
ritual dalam mengekspresikan rasa syukur.
Ritual yang dilakukan ketika kelahiran anak,
dimulai semenjak masa kandungan. Di jawa ketika sang anak masih dalam kandungan
dilakukan upacara Ngapati atau disebut juga Ngupati
ketika usia kehamilan 4 bulan, ritual ini ditandai dengan upacara pemberian
makan yang salah satu menunya adalah ketupat. Ritual ngapati ini merupakan
mapag, karena pada masa usia 120 hari dari kehamilan atau 4 bulan, maka Allah
meniupkan roh kepada janin dalam kandungan. Sementara ruh ditiupkan, pada saat
itu ditentukan juga rezeki dan ajalnya[16].
Tiga
bulan kemudian tepatnya di usia kandungan 7 bulan juga diadakan ritual yang
oleh masyarakat Jawa disebut Mitoni atau Tingkepan. Dipilihnya bulan ke-7
masa kehamilan disebabkan karena bentuk bayi pada usia itu sudah sempurna.
Bentuk upacaranya sama dengan Ngapati yakni berupa sedekahan dan penyampaian
doa-doa agar bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.
Mitoni
atau Tingkeban adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa, upacara ini disebut
juga mitoni
berasal dari kata pitu yang arti nya tujuh, upacara ini dilaksanakan pada usia
kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali.Upacara ini bermakna
bahwa pendidikan bukan saja setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam
di dalam rahim ibu. Dalam upacara ini sang ibu yang sedang hamil di mandikan
dengan air kembang setaman dan di sertai doa yang bertujuan untuk memohon
kepada Tuhan YME agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang
akan dilahirkan selamat dan sehat[17].
Di
Bali, ritual atau upacara masa kehamilan
dinamakan Magedog-gendongan yang dilakukan ketika bayi masih dalam
kandungan di bawah lima bulan.Upacara ini bertujuan untuk membersihkan dan
memohon keselamatan jiwa si bayi agar kelak menjadi orang yang berguna untuk
dalam masyarakat nanti[18].
Setelah bayi lahir, dalam masyrakat jawa terdapat tradisi
“njagong” dan “sepasaran”. Njagong adalah duduk
bersama sambil bercengkrama dengan tetangga sebagai bentuk bahagia, yang
melakukan hajat berkumpul ikut meladeni njagongi (ngobrol) dengan memberikan
suguhan sesuai dengan kemampuan yang bertujuan untuk bershadaqoh. Pada dasarnya
njagong tidak hanya sekedar berkumpul sambil ngobrol dan makan-makan, tetapi para
tetangga datang kepada keluarga yang bahagia sambil memanjatkan do’a sebagari
rasa bersyukur[19].
Spasaran dilakukan dilakukan dalam rangka memberikan dan
mengumumkan nama, yang disertai dengan memotong kambing serta mencukur rambut
bayi. Setelah selesai upacara spasaran dilanjutkan dengan ritual keduri atau
sedekahan dengan makan daging kambing
yang dipotong, yang bertujuan memohon kebaikan dan keselamatan[20].
C. Upacara Perkawinan
Perkawinan adalah merupakan ikatan batin antara pria dan
wanita yang akan melaksungkan ikatan rumah tangga, pernikahan merupakan ritual bersifat religius (sakral)
dan wajib hukumnya, sebagai penyempurna agama dan tanda kematangan serta
kedewasaan seseorang.
Pernikahan dalam adat dan kepercayaan sunda,
terlebih dahulu diadakan tahap nendeun omong yang berarti pembicaraan
antara orang tua kedua belah pihak untuk membicarakan tentang rencana
pernikahan, dilanjutkan dengan lamaran untuk menghadirkan dan mengenalkan
keluarga masing-masing calon pengantin dengan membawa ‘lamareun’ yang diartikan
sebagai simbol pengikat. Lalu diadakan prosesi akad, setelah prosesi ijab kabul
lalu melakukan sembah sungkem kepada orang tua mereka yang berarti meminta
restu pada orang tua. Selain itu, ada juga acara melepas burung merpati ke
udara yang berarti ingin mengucapkan selamat tinggal pada anak-anaknya dan ibu
pun merestui dan melepas kepergian mempelai keluar dari rumah untuk memulai
mengarungi bahtera rumah tangga sendiri[21].
Ada juga ritual sawer pengantin dalam adat
Sunda yang berarti nasehat berupa tembang dan nyanyian kepada dua pengantin. Selanjutnya ada acara menginjak telur dan mencuci kaki, ritual ini melambangkan keturunan karena bila
telur yang diinjak pecah maka sang pengantin akan segera mendapatkan momongan.
Sedangkan acara mencuci kaki diartikan untuk menyucikan diri dari hal-hal
negatif. Prosesi lain dari pernikahan dengan adat Sunda adalah dengan membakar
harupat dan memecah kendi. Disini, diibaratkan mempelai mau untuk saling
mengalah dalam menjalani bahterai pernikahannya kelak. Buka pintu adalah ritual
selanjutnya dalam adat Sunda yang ini dimaknai tentang bagaimana hidup dalam
bertetangga.
Dalam
ritual pernikahan yang dilakukan masyarakat jawa, mempunyai beberapa rangkaian
sakral dimana rangkaian-rangkaian tersebut mempunyai makna yang sangat berarti
baik bagi calon mempelai pengantin, keluarga, maupun masyarakat sekitarnya.
Rangkaian pernikahan adat jawa yaitu siraman, pecah kendi, midodareni, balangan
suruh (melempar sirih), wiji dadi (membasuh kaki calon suami), pupuk, sinduran,
timbang, dan sungkeman dimana rangkaian-rangkaian adat tersebut tidak akan
ditemukan di adat pernikahan khas Indonesia lainnya.
Prosesi
siraman dan midodareni dilakukan sehari sebelum prosesi ijab kabul. Setelah
ijab Kabul kemudian acara diteruskan dengan prosesi resepsi pernikahan yang terdiri
dari beberapa ritual unik seperti balangan suruh (melempar sirih), wiji dadi
(membasuh kaki suami), pupuk (mengusap menantu laki-laki), sinduran
(menyamppirkan kain pada menantu laki laki secara perlahan-lahan), timbang
(memangku mennatu dan anak sebagai simbol kasih sayang yang sama besarnya dari
bapak mertua), kacar-kucur (menuangkan sedikita air ke pangkuan ipengantin
perempuan sebagai simbol pemberian nafkah), dan sungkeman (permintaan restu
kapada kedua orangtua).
Pernikahan
di Minagkabau pihak perempuan adalah pihak yang mempunyai hak untuk meminang, karena
masyarakat Minagkabau masih menggunakan sistem matrinial dimana wanita
mempunyai hak dan kuasa lebih tinggi daripada pihak laki-laki. Maka ritual
pernikahan terdiri dari beberapa tahap, yaitu marse, maminang/ batimbang tando,
mahanta siriah, dan babako-babaki.
Dalam ritual pernikahan Batak terdapat lima
rangkaian ritual, yaitu : Pertama, patiur baba ni mual , yaitu
ritual permintaan izin dan doa restu kepada Tulang yang biasanya prosesi dilakukan
oleh putra pertama yang akan melangsungkan pernikahan. Kedua, marhori-hori dingding, perkenalan
keluarga dengan cara keluarga besar calon pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga
calon pengantin wanita. Ketiga, marhusip
dan patua hata , yaitu meminang secara resmi dan perundingan tentang mas kawin
dan ulos. Keempat, martupol
pengumuman pernikahan, Kelima, martonggo
raja dan maria raja, yaitu aca dilangsungkannya akad yang dipimpin oleh ketua
adat.
D. Upacara Kematian
Menurut orang Jawa, arwah orang-orang tua
sebagai nenek moyang yang telah meninggal dunia tetap hidup dan berkeliaran
disekitar tempat tinggalnya atau sebagai arwah leluhur menetap di makam (pesareyan).
Mereka masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang masih hidup sehingga
suatu saat arwah itu nyambangi datang kekediaman anak keturunan. Roh-roh yang
baik yang bukan roh nenek moyang atau kerabat disebut dhanyang, bahureksa atau
sing ngemong. Dhanyang ini dipandang sebagai roh yang menjaga agar
mengawasi seluruh masyarakat desa.
Dari sinilah kemudian timbul upacara bersih
desa, termasuk membersihkan makam-makam disertai dengan kenduren maupun sesaji
dengan maksud agar sang dhanyang akan selalu memberikan perlindungan.
Pelaksanaan upacara itu sendiri dilaksanakan pada hari-hari tertentu sesuai
dengan bentuk upacaranya[22].
Di
kalangan masyarakat Dayak secara umum meyakini bahwa roh orang yang sudah
meninggal jika belum diselenggarakan upacara kematian tiwah, ijambe dan wara
atau mabatur, maka roh dapat mengganggu manusia yang masih hidup. Dalam
pengertian ini kematian hanyalah perubahan dalam wujud fisik, tetapi roh akan
terus hidup[23].Upacara
kematian ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan kosmos yang diharapkan
dapat memberikan keselamatan baik kepada roh si mati maupun terhadap manusia
yang ditinggalkan.
Menurut tradisi eskatologi yang bersumber pada
ajaran sufi (Syattariyah), praktek selamatan peringatan dihubungkan dengan
proses pembusukan tubuh yang mati sebelum pada akhirnya melebur seluruhnya
dengan tanah. Dalam kondisi normal, proses ini berlangsung pada tujuh tahap[24].
Tahap pertama adalah tiga hari setelah
pemakaman, ketika jasad diyakini membengkak. Tahap kedua, adalah hari ke tujuh,
ketika pembengkakan mencapai puncaknya dan meletus. Setelah itu daging terurai
dan mulai membusuk. Setelah 40 hari (Tahap ketiga), proses pembusukan ini
diikuti dengan pergerakan tubuh secara perlahan tapi pasti. Kepala menjadi
tegak, seperti halnya lutut, sementara pada hari ke 100 (Tahap keempat), tubuh
yang membusuk berubah dari posisi tidur ke posisi berdiri[25].
Proses ini berlangsung hingga kaki melenting ke
belakang dan kepala ke depan. Setahun kemudian (Tahap kelima), kepala akan
mencapai lutut. Di tahun kedua (Tahap keenam), ketika semua daging sudah tidak
tersisa, kaki jenazah akan tertekuk hingga ke bawah pantat, sedangkan kepala
akan mencapai lutut. Akhirnya, dalam waktu tiga tahun atau 1000 hari (Tahap
ketujuh), semua tulang akan terkumpul bersama sebelum akhirnya melebur dengan
tanah.
E.Upacara Tanam dan Panen
Di suku Dayak ritual tanam padi dan panen dilakukan dengan Tarian
Hudoq, yaitu tarian yang melambangkan berbagai pengharapan terhadap hasil panen
tahun mendatang yang berlimpah.Upacara tanam padi biasanya dimulai pada bulan
Juli hingga Agustus dan ritual Hudoq diselenggarakan pada bulan September –
Oktober atau dua bulan setelah pembersihan lahan dan musim tanam.Upacara
penanaman padi ini biasanya berlangsung selama sepekan, dengan agenda yang
berbeda setiap harinya. Upacara yang paling penting mengiringi kegiatan ini
adalah tarian Hudoq.
Dalam tarian Hudoq, penari menggunakan baju
dari bahan daun pisang yang telah disuwir-suwir dan memakai topeng kayu aneka
karakter yang dilambangkan menjadi berbagai dewa sebagai pemberi rezeki, burung
dan babi (bavui) sebagai hama, anjing (asoq) sebagai
penjaga atau pengawai[26].
Masyarakat Lombok mengenal tiga upacara
yang berhubungan dengan dengan siklus tanaman padi, yaitu: Pertama,
Ngaji makam turun bibit, tujuan riual ini adalah agar bibit yang ditanam tumbuh
dengan baik dan juga sebagai media untuk memohon ijin kepada penguasa alam gaib
yang menguasi tempat bertani (sawah) dan buah padi itu sendiri. Ritual ini diselenggarakan pada musim tanam. Kedua,
Ngaji makam tunas setamba, yang dilakukan untuk menangkal penyakit dan belalang
yang dilakukan saat menyuburkan (pemupukan) dan menyebarkan pestisida, dengan
ritual ini mereka berharap padi yang ditanam dapat tumbuh subur dan selamat
dari gangguan hama. Ketiga, Ngaji makam ngaturang ulak kaya, ritual
dilakukan pada saat panen sebagai bentuk syukur bagaimanapun hasil panennya,
dan sebagai harapan hasil panen pada musim berikutnya semakin banyak. Maka
ritual yang dilakukan di masyarakat lombok mempunyai dua dimensi sekaligus
yaitu dimensi pengharapan dan dimensi syukur.
F. Upacara Kurban
Pada masyarakat pesisir Kotabaru Kalimantan
Selatan mengadakan Upacara Adat
macceratasi, yaitu ritual kurban atau upacara adat dengan menyembelih binatang,
lalu darah hewan ditumpahkan ke laut
sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah penghidupan dari laut.
Ritual maccerati dilakukan setiap
menjelang tahun baru Masehi sekitar bulan Desember di Pantai Gedambaan.
Macceratasi dilaksanakan selama dua hari, pada
hari pertama, sebelum ritual inti yakni menyembelih dan menumpahkan darah hewan
ke laut, masyarakat setempat dipimpin oleh seorang tokoh adat mengadakan
upacara Tampung Tawar, yaitu upacara memanjatkan doa kepada Tuhan. Dalam
prosesi ini, seorang tokoh adat memimpin doa dengan duduk di antara sesaji yang
terdiri dari berbagai bahan pokok mentah seperti beras, kelapa, gula, ayam yang
masih hidup, dan air kembang. Pada hari kedua,
dilakukan ritual melepas miniatur bagang, yaitu perangkat menangkap ikan
berupa jaring yang dipasang di antara bambu-bambu penyangga di tengah laut. Di
dalam miniatur bagang ini diletakkan berbagai makanan yang sudah matang
untuk dilarung ke laut. Pelepasan bagang ini juga merupakan ungkapan terima
kasih akan karunia Tuhan yang telah memberikan kekayaan laut yang melimpah[27].
Di
Pulau Jawa yang lebih husus Laut Selatan, terdapat prosesi adat laut yang
dinamakan hajat laut. Pada acara itu seekor kerbau atau kepalanya beserta
sesajian lainnya diantarkan ke laut. Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari
Senin atau Kamis menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Sura).
Selasa dan Jumat Kliwon dianggap sebagai hari nahas sehingga nelayan tidak
boleh melaut. Ketika sesaji menyentuh permukaan laut, belasan orang melompat
dari perahunya dan menyerbu sesaji. Mereka berebut menciduk air laut di bawah
dan di sekitar sesaji untuk disiramkan ke perahu masing-masing. Mereka percaya
bahwa menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa hasil
tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba
rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga menjadi
perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkannya. Itulah pemuncak acara
hajat laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu[28].
SIMPULAN
Agama dan keyakinan mempunyai berbagai dimensi,
yaitu keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan dan konsekuensi-konsekuensi
praktek keagamaan, mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang
dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agamanya.
Sakremen, ritual atau ceremony adalah sistem atau
rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam
masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya
terjadi dalam masyarakat. Sakramen atau
ritual dalam agama asli indonesia, serangkaian ritual yang berkaitan dalam
kehidupan sehari-hari dalam interaksinya dengan tuhan, seperti kelahiran,
pernikahan, kematian, tanam panen, dan lain sebagainya.
Makna sakramen atau
ritual tidak hanya dilihat dari bentuk ritualnya, akan tetapi memberi
pesan-pesan bagi manusia, karena didalamnya mempunyai dua dimensi, yaitu : Pertama,
dimensi pengharapan baik keselamata dan kesuksesan, kedua, dimensi syukur kepada Tuhan.
Berbagai sakramen dalam kepercayaan di
Indonesia dipengaruhi oleh sosio kultur dalam suatu daerah, maka tentunya
bentuk dan cara sakramen yang berbeda begitu pula dalam pelaksanaannya baik dalam sakramen kelahiran, pernikahan, kematian, tanam panen,
kurban, dan lain sebagainya.
.
DAFTAR PUSTAKA
Amstrong, Karen. 2009. Masa Depan Tuhan. (Bandung :
Mizan)
AG, Muhaimin . 2002Islam
dalam Bingkai Budaya Lokal : Potret dari Cirebon, (Jakarta : Logos)
Dyson, L. Dan Asharini. 1981. Tiwah, Upacara Kematian
pada Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah ( Jakarta : Depdikbud)
Ekadjati, Edi S.1995.
Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan Sejarah, ( Jakarta : Pustaka Jaya)
Fatah, Abdul.2010. Ngamumule
tardisi sunda. Dalam makalah saresehan pupuhu sunda di kampung sirnagalih
Garut.
Jamil, Abdul dkk.
2002. Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta : Gama Media)
Johnson, Doyle Paul. 1986.Teori Sosiologi Klasik dan Modern. (Jakarta : Gramedia)
Kana, Nico L .1983. Dunia Orang Sawu, ( Jakarta : Sinar Harapan)
Kartapradja, Kamil .1985. Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di
Indonesia, (Jakarta : Yayasan Masagung.
Morris, Brian .2003. Antropologi Agama: Kritik Teori-Teori Agama
Komtemporer, ter. Imam Khoiri (Yogyakarta: AK Group)
Munawir, Abdul
Fattah.2006. Tradisi Orang-orang NU, ( Yogyakarta : Pustaka Pesantren)
Nasution, Harun. 1979. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya.
(Jakarta : UI Press)
Nottingham, Elizabeth K.
1985. Agama dan masyarakat suatu pengantar Sosiologi Agama, (Jakarta :
Rajawali)
O'Dea, Tomas F . 1985. Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal,
terj. Yasogama, (Yogyakarta: Yayasan Solidaritas Gajah Mada)
Rasjidi, H.M. 1994. Filsafat
Agama. (Jakarta : Bulan Bintang)
Rozak, Abdul .2005.Teologi Kebatinan Sunda, Kajian Antropologi
Agama tentang aliran kebatinan dan perjalanan, ( Bandung : Kiblat buku
Utama)
Sholikhin, Muhammad. 2010. Ritual dan tradisi Islam Jawa,
(Yogyakarta : Narasi)
Sudharta, Tjok
Rai. 1993. Manusia hindu (Denpasar:Yayasan Dharma Naradha)
Ukur , Fridolin. 1969. Tantang Jawab Suku Dayak.( Jakarta:
BPK Gunung Mulia.)
http://muslims-says.blogspot.com/2012/04/bedah-tujuh-sakramen.html#ixzz28GZrj1w2 oleh Irene Handono diunduh 03 september 2012 Pukul
: 21.00
Http://chandrarini.com/upacara
tingkeban nujuh bulanan, diunduh pada tanggal 03 Oktober 2012 Pukul : 14.30
Http://chandrarini.com/upacara
pesta laut di kalimantan, diunduh pada tanggal 05 Oktober 2012 Pukul : 21.15
[2]
Harun Nasution, , Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. (Jakarta : UI
Press 1979). Jilid I, hlm. 9.
[3]
Elizabeth K. Nottingham. Agama dan masyarakat suatu pengantar Sosiologi
Agama. (Jakarta : Rajawali 1985) cet
ke-1, hlm. 4.
[4]
H.M Rasjidi. Filsafat Agama. (Jakarta : Bulan Bintang 1994) cet ix, hlm.
11.
[6]
Abdul Rozak, Teologi Kebatinan Sunda, Kajian Antropologi Agama tentang
aliran kebatinan dan perjalanan, ( Bandung : Kiblat buku Utama. 2005),hlm.
18
[7]
Kamil Kartapradja, Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia,
(Jakarta : Yayasan Masagung. 1985), hlm. 59.
[8]
Tomas F O'Dea, Sosiologi
Agama Suatu Pengenalan Awal, terj. Yasogama,
(Yogyakarta: Yayasan Solidaritas Gajah Mada. 1985), hlm. 7
[9]
Ibid, hlm. 120.
[10]
http://muslims-says.blogspot.com/2012/04/bedah-tujuh-sakramen.html#ixzz28GZrj1w2 oleh Irene Handono diunduh 28 september 2012
pukul 21.00
[11] Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial.
(Jakarta: Dian Rakyat.1990).hlm.190
[12]
Ibid, hlm 192
[16]
Abdul Fatah, Ngamumule tardisi sunda. Dalam makalah saresehan pupuhu
sunda di kampung sirnagalih Garut, Tanggal 10 September 2010, hlm. 5.
[17] Http://chandrarini.com/upacara
tingkeban nujuh bulanan, diunduh pada tanggal 03 Oktober 2012 jam 14.30
[19]
Muhammad Sholikhin, Ritual dan
tradisi Islam Jawa, (Yogyakarta : Narasi.2010), cet ke-1. hlm. 110.
[20]
Ibid, hlm. 111.
[21]
Abdul Fatah, Ngamumule tardisi sunda. Dalam makalah saresehan pupuhu
sunda di kampung sirnagalih Garut, Tanggal 10 September 2010. hlm. 7.
[22] Abdul Fattah
Munawir, Tradisi Orang-orang NU, ( Yogyakarta : Pustaka
Pesantren. 2006) hlm .72.
[23] L. Dyson Dan Asharini, Tiwah, Upacara Kematian pada
Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah ( Jakarta : Proyek Media Kebudayaan Depdikbud.
1981), hlm. 69.
[24] Muhaimin AG, Islam dalam Bingkai Budaya
Lokal : Potret dari Cirebon, (Jakarta : Logos. 2002), hlm. 234
[25]
Nico L Kana, Dunia Orang Sawu, ( Jakarta :
Sinar Harapan.1983), hlm. 121.
[27] Http://chandrarini.com/upacara
pesta laut di kalimantan, diunduh pada tanggal 05 Oktober 2012 Pukul : 21.15
[28] Edi S Ekadjati, Kebudayaan Sunda,
Suatu Pendekatan Sejarah, ( Jakarta : Pustaka Jaya. 1995), hlm. 72-73.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar