Senin, 15 Oktober 2018


SAKRAMEN DALAM KEPERCAYAAN ASLI INDONESIA
Oleh : Ade Nurpriatna

ABSTRAK

Sakremen merupakan sistem atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat, dalam mengatur siklus kehidupan sehari-hari dalam interaksinya dengan Tuhan, seperti kelahiran, pernikahan, kematian, tanam panen, dan lain sebagainya. Dan inti sakramen sebagai dimensi pengharapan baik keselamata dan kesuksesan, dan  dimensi syukur kepada Tuhan.
Secara kultur sakramen sebagai adat istiadat dalam masyarakat diakomodir sebagai tindakan kepercayaan atau agama yang kaitannya dengan siklus kehidupan, seperti sakramen kelahiran, kematian, perkawinan, tanam panen, kurban dan lain sebagainya.


Kata Kunci : Sakramen, kepercayaan, masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Agama dan kepercayaan dalam berbagai realitasnya merupakan simbol atau bentuk dari apresiasi manusia terhadap sesuatu yang bersifat abstrak (ghaib) dan selalu berhubungan dengan segala sesuatu yang mengandung mistik dan supranatural[2].
Elizabet K. Nottingham  berpendapat bahwa agama gejala yang sering terjadi mana-mana yang kaitan dengan usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam smesta, agama merupakan suatu keyakinan yang dapat membangkitkan rasa kebahagiaan batin manusia dan membangkitkan perasaan takut dalam dirinya[3]. Agama sebagai problem of ultimate concern, dalam arti bahwa manusia memerlukan nilai-nilai mutlak sebagai pegangan dan jawaban terhadap persoalan hidup dan mati[4].
  Pada hakikat agama dan kepercayaan merupakan suatu kepercayaan dan cara hidup manusia, kepercayaan terhadap agama dibuktikan dengan berbagai ibadah (ritual). Secara umum agama dan kepercayaan memiliki dua unsur, yaitu keyakinan terhadap suatu yang supra natural, dan  praktek agama dalam bentuk sakramen atau ritual berdasarkan aturan dari agama dan kepercayaan[5].
Agama asli indonesia adalah agama lokal atau agama tradisional yang dipengaruhi oleh situasi-kondisi sosio-kultur suatu daerah dalam bentuk aliran kepercayaan[6]. Aliran kepercayaan adalah suatu kepercayaan manusia yang bersifat naluriah terhadap masalah ketuhanan, ritual dan sebagainya[7]. Agama sama halnya dengan kebudayaan merupakan transformasi symbolis pengalaman, juga merupakan sistem pertahanan dalam arti seperangkat kepercayaan dan sikap. Agama juga merupakan salah satu bentuk perlindungan budaya, dimana agama terlihat sebagai pusat kebudayaan dan penyaji aspek kebudayaan tertinggi dan suci[8].
Setiap agama dan kepercayaan asli  indonseia mempunyai sakramen yaitu ritus dan upacara tertentu. Ritus dan upacara yang dilakukan merupakan sarana untuk merefleksikan keyakinan terhadap suatu yang dianggap supra natural. Dalam setiap ritus tertentu biasa terdapat unsur-unsur yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan[9].
B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dikaji dalam penulisan makalah ini, dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa hakikat sakramen dalam agama atau kepercayaan?
2. Bagamana sakramen sebagai siklus kehidupan dalam kepercayaan Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka dalam penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui hakikat sakramen dalam agama dan kepercayaan di Indonesia.
2. Mengetahui sakramen sebagai siklus kehidupan dalam kepercayaan Indonesia



BAB II
SAKRAMEN DALAM KEPERCAYAAN ASLI INDONESIA
A. Arti Sakramen
Kata sakramen berasal dari bahasa latin, sacramentum yang secara harfiah berarti menjadikan suci, istilah sakramen kemudian digunakan oleh Gereja dalam pengertian harfiah untuk mensucikan segala yang dianggap suci. Sakramen juga memiliki pengertian sumpah, salah satu contoh penggunaan kata sacramentum adalah sebagai sebutan untuk sumpah bakti yang diikrarkan para prajurit Romawi. Kemudian secara makna sakramen adalah suatu paham tentang misteri karena banyak hal yang tak dapat dipahami oleh manusia, dan mensucikan sesuatu yang dianggap suci dengan memujanya[10].
Sakremen, ritual atau ceremony adalah sistem atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan[11]. Dalam setiap ritual biasanya memiliki dua aspek, yaitu tujuan  dan cara. Merupakan tujuan utama ritual adalah bersyukur kepada Tuhan, tetpi ritual juga ada  yang tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan keselamatan dan rahmat; dan ada yang tujuannya meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan. Adapun dari segi cara, ritual dapat dibedakan menjadi dua: individual dan kolektif. Sebagian ritual dilakukan secara perorangan, bahkan ada yang dilakukan dengan mengisolasi diri dari keramaian, seperti meditasi, bertapa, dan yoga. Ada pula ritual yang dilakukan secara kolektif bersama-sama dalam pelaksanaanya[12].
Menurut R. Stark dan C.Y. Glock yang dikutip Chalifah Jama’an, mereka mengatakan bahwa ritual mengacu pada seperangkat ritus, tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang diwujudkan dalam kebaktian, persekutuan suci, baptis, perkawinan dan semacamnya. Ketaatan dan ritual bagaikan ikan dengan air. Apabila aspek ritual adalah komitmen formal dan khas publik, maka ketaatan merupakan perangkat tindakan persembahan dan kontemplasi personal, informal dan khas peribadatan yang diwujudkan melalui sembahyang, membaca kitab suci dan ekspresi lain bersama-sama[13].
Sakramen atau ritual merupakan Upacara itu berfungsi mengkomunikasikan keyakinan kepada semua orang dan sebagai perwujudan keyakinan, oleh karena itu keyakinan dan sakramen tidak dapat dipisahkan dari suatu agama, dan sakramen inilah merupakan bentuk budaya dalam sistem tindak dalam budaya dan kepercayaan[14].
Upacara-upacara pokok ini dalam kepercayaan tradisional disebut juga dengan istilah slametan (Selamatan, kenduri). Ini merupakan acara agama yang paling umum diantara kalangan orang Jawa dan melambangkan persatuan mistik dan sosial dari orang-orang yang ikut serta dalam selamatan itu[15].
Dalam tradisi kepercayaan asli indonesia, banyak terdapat praktek-praktek sakramen atau upacara dalam kegiatan yang menyangkut kegiatan keseharian serta kerohanian yang mereka jalani dalan kesehariannya, semua ritual pada dasarnya merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan. Sakramen-sakramen di masyarakat indonesia, seperti upacara kelahiran, perkawinan, kematian, tanam dan panen, kurban dan lain sebagainya.

B. Upacara kelahiran
Anak merupakan dambaan setiap orang tua, karena anak merupakan kesempurnaan orang dalam rumah tangga. Pada hakikatnya, anak merupakan amanah yang diberikan Tuhan yang berupa keahagiaan. Sebagai rasa syukur atas dianugerahi anak, dalam kepercayaan di Indonesia terdapat tradisi ritual dalam mengekspresikan rasa syukur.
Ritual yang dilakukan ketika kelahiran anak, dimulai semenjak masa kandungan. Di jawa ketika sang anak masih dalam kandungan dilakukan upacara  Ngapati atau disebut juga Ngupati ketika usia kehamilan 4 bulan, ritual ini ditandai dengan upacara pemberian makan yang salah satu menunya adalah ketupat. Ritual ngapati ini merupakan mapag, karena pada masa usia 120 hari dari kehamilan atau 4 bulan, maka Allah meniupkan roh kepada janin dalam kandungan. Sementara ruh ditiupkan, pada saat itu ditentukan juga rezeki dan ajalnya[16].
Tiga bulan kemudian tepatnya di usia kandungan 7 bulan juga diadakan ritual yang oleh masyarakat Jawa disebut Mitoni atau Tingkepan.  Dipilihnya bulan ke-7 masa kehamilan disebabkan karena bentuk bayi pada usia itu sudah sempurna. Bentuk upacaranya sama dengan Ngapati yakni berupa sedekahan dan penyampaian doa-doa agar bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.
Mitoni atau Tingkeban adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa, upacara ini disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang arti nya tujuh, upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali.Upacara ini bermakna bahwa pendidikan bukan saja setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam rahim ibu. Dalam upacara ini sang ibu yang sedang hamil di mandikan dengan air kembang setaman dan di sertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan YME agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat[17].
Di Bali, ritual atau upacara masa kehamilan dinamakan Magedog-gendongan yang dilakukan ketika bayi masih dalam kandungan di bawah lima bulan.Upacara ini bertujuan untuk membersihkan dan memohon keselamatan jiwa si bayi agar kelak menjadi orang yang berguna untuk dalam masyarakat nanti[18].
Setelah bayi lahir, dalam masyrakat jawa terdapat tradisi “njagong” dan “sepasaran”. Njagong adalah duduk  bersama sambil bercengkrama dengan tetangga sebagai bentuk bahagia, yang melakukan hajat berkumpul ikut meladeni njagongi (ngobrol) dengan memberikan suguhan sesuai dengan kemampuan yang bertujuan untuk bershadaqoh. Pada dasarnya njagong tidak hanya sekedar berkumpul sambil ngobrol dan makan-makan, tetapi para tetangga datang kepada keluarga yang bahagia sambil memanjatkan do’a sebagari rasa bersyukur[19].
Spasaran dilakukan dilakukan dalam rangka memberikan dan mengumumkan nama, yang disertai dengan memotong kambing serta mencukur rambut bayi. Setelah selesai upacara spasaran dilanjutkan dengan ritual keduri atau sedekahan  dengan makan daging kambing yang dipotong, yang bertujuan memohon kebaikan dan keselamatan[20].
C. Upacara Perkawinan
Perkawinan adalah merupakan ikatan batin antara pria dan wanita yang akan melaksungkan ikatan rumah tangga,  pernikahan merupakan ritual bersifat religius (sakral) dan wajib hukumnya, sebagai penyempurna agama dan tanda kematangan serta kedewasaan seseorang.
Pernikahan dalam adat dan kepercayaan sunda, terlebih dahulu diadakan tahap nendeun omong yang berarti pembicaraan antara orang tua kedua belah pihak untuk membicarakan tentang rencana pernikahan, dilanjutkan dengan lamaran untuk menghadirkan dan mengenalkan keluarga masing-masing calon pengantin dengan membawa ‘lamareun’ yang diartikan sebagai simbol pengikat. Lalu diadakan prosesi akad, setelah prosesi ijab kabul lalu melakukan sembah sungkem kepada orang tua mereka yang berarti meminta restu pada orang tua. Selain itu, ada juga acara melepas burung merpati ke udara yang berarti ingin mengucapkan selamat tinggal pada anak-anaknya dan ibu pun merestui dan melepas kepergian mempelai keluar dari rumah untuk memulai mengarungi bahtera rumah tangga sendiri[21].
Ada juga ritual sawer pengantin dalam adat Sunda yang berarti nasehat berupa tembang dan nyanyian kepada dua pengantin. Selanjutnya ada acara menginjak telur dan mencuci kaki,  ritual ini melambangkan keturunan karena bila telur yang diinjak pecah maka sang pengantin akan segera mendapatkan momongan. Sedangkan acara mencuci kaki diartikan untuk menyucikan diri dari hal-hal negatif. Prosesi lain dari pernikahan dengan adat Sunda adalah dengan membakar harupat dan memecah kendi. Disini, diibaratkan mempelai mau untuk saling mengalah dalam menjalani bahterai pernikahannya kelak. Buka pintu adalah ritual selanjutnya dalam adat Sunda yang ini dimaknai tentang bagaimana hidup dalam bertetangga.
Dalam ritual pernikahan yang dilakukan masyarakat jawa, mempunyai beberapa rangkaian sakral dimana rangkaian-rangkaian tersebut mempunyai makna yang sangat berarti baik bagi calon mempelai pengantin, keluarga, maupun masyarakat sekitarnya. Rangkaian pernikahan adat jawa yaitu siraman, pecah kendi, midodareni, balangan suruh (melempar sirih), wiji dadi (membasuh kaki calon suami), pupuk, sinduran, timbang, dan sungkeman dimana rangkaian-rangkaian adat tersebut tidak akan ditemukan di adat pernikahan khas Indonesia lainnya.
Prosesi siraman dan midodareni dilakukan sehari sebelum prosesi ijab kabul. Setelah ijab Kabul kemudian acara diteruskan dengan prosesi resepsi pernikahan yang terdiri dari beberapa ritual unik seperti balangan suruh (melempar sirih), wiji dadi (membasuh kaki suami), pupuk (mengusap menantu laki-laki), sinduran (menyamppirkan kain pada menantu laki laki secara perlahan-lahan), timbang (memangku mennatu dan anak sebagai simbol kasih sayang yang sama besarnya dari bapak mertua), kacar-kucur (menuangkan sedikita air ke pangkuan ipengantin perempuan sebagai simbol pemberian nafkah), dan sungkeman (permintaan restu kapada kedua orangtua).
Pernikahan di Minagkabau pihak perempuan adalah pihak yang mempunyai hak untuk meminang, karena masyarakat Minagkabau masih menggunakan sistem matrinial dimana wanita mempunyai hak dan kuasa lebih tinggi daripada pihak laki-laki. Maka ritual pernikahan terdiri dari beberapa tahap, yaitu marse, maminang/ batimbang tando, mahanta siriah, dan babako-babaki.
 Dalam ritual pernikahan Batak terdapat lima rangkaian ritual, yaitu : Pertama, patiur baba ni mual , yaitu ritual permintaan izin dan doa restu kepada Tulang yang biasanya prosesi dilakukan oleh putra pertama yang akan melangsungkan pernikahan. Kedua,  marhori-hori dingding, perkenalan keluarga dengan cara keluarga besar calon pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga calon pengantin wanita. Ketiga,  marhusip dan patua hata , yaitu meminang secara resmi dan perundingan tentang mas kawin dan ulos. Keempat,  martupol pengumuman pernikahan, Kelima,  martonggo raja dan maria raja, yaitu aca dilangsungkannya akad yang dipimpin oleh ketua adat.
D. Upacara Kematian
Menurut orang Jawa, arwah orang-orang tua sebagai nenek moyang yang telah meninggal dunia tetap hidup dan berkeliaran disekitar tempat tinggalnya atau sebagai arwah leluhur menetap di makam (pesareyan). Mereka masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang masih hidup sehingga suatu saat arwah itu nyambangi datang kekediaman anak keturunan. Roh-roh yang baik yang bukan roh nenek moyang atau kerabat disebut dhanyang, bahureksa atau sing ngemong. Dhanyang ini dipandang sebagai roh yang menjaga agar mengawasi seluruh masyarakat desa.
Dari sinilah kemudian timbul upacara bersih desa, termasuk membersihkan makam-makam disertai dengan kenduren maupun sesaji dengan maksud agar sang dhanyang akan selalu memberikan perlindungan. Pelaksanaan upacara itu sendiri dilaksanakan pada hari-hari tertentu sesuai dengan bentuk upacaranya[22].
Di kalangan masyarakat Dayak secara umum meyakini bahwa roh orang yang sudah meninggal jika belum diselenggarakan upacara kematian tiwah, ijambe dan wara atau mabatur, maka roh dapat mengganggu manusia yang masih hidup. Dalam pengertian ini kematian hanyalah perubahan dalam wujud fisik, tetapi roh akan terus hidup[23].Upacara kematian ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan kosmos yang diharapkan dapat memberikan keselamatan baik kepada roh si mati maupun terhadap manusia yang ditinggalkan.
Menurut tradisi eskatologi yang bersumber pada ajaran sufi (Syattariyah), praktek selamatan peringatan dihubungkan dengan proses pembusukan tubuh yang mati sebelum pada akhirnya melebur seluruhnya dengan tanah. Dalam kondisi normal, proses ini berlangsung pada tujuh tahap[24].
Tahap pertama adalah tiga hari setelah pemakaman, ketika jasad diyakini membengkak. Tahap kedua, adalah hari ke tujuh, ketika pembengkakan mencapai puncaknya dan meletus. Setelah itu daging terurai dan mulai membusuk. Setelah 40 hari (Tahap ketiga), proses pembusukan ini diikuti dengan pergerakan tubuh secara perlahan tapi pasti. Kepala menjadi tegak, seperti halnya lutut, sementara pada hari ke 100 (Tahap keempat), tubuh yang membusuk berubah dari posisi tidur ke posisi berdiri[25].
Proses ini berlangsung hingga kaki melenting ke belakang dan kepala ke depan. Setahun kemudian (Tahap kelima), kepala akan mencapai lutut. Di tahun kedua (Tahap keenam), ketika semua daging sudah tidak tersisa, kaki jenazah akan tertekuk hingga ke bawah pantat, sedangkan kepala akan mencapai lutut. Akhirnya, dalam waktu tiga tahun atau 1000 hari (Tahap ketujuh), semua tulang akan terkumpul bersama sebelum akhirnya melebur dengan tanah.
E.Upacara Tanam dan Panen
Di suku Dayak ritual  tanam padi dan panen dilakukan dengan Tarian Hudoq, yaitu tarian yang melambangkan berbagai pengharapan terhadap hasil panen tahun mendatang yang berlimpah.Upacara tanam padi biasanya dimulai pada bulan Juli hingga Agustus dan ritual Hudoq diselenggarakan pada bulan September – Oktober atau dua bulan setelah pembersihan lahan dan musim tanam.Upacara penanaman padi ini biasanya berlangsung selama sepekan, dengan agenda yang berbeda setiap harinya. Upacara yang paling penting mengiringi kegiatan ini adalah tarian Hudoq.
Dalam tarian Hudoq, penari menggunakan baju dari bahan daun pisang yang telah disuwir-suwir dan memakai topeng kayu aneka karakter yang dilambangkan menjadi berbagai dewa sebagai pemberi rezeki, burung dan  babi (bavui) sebagai hama, anjing (asoq)  sebagai penjaga atau pengawai[26].
Masyarakat Lombok mengenal tiga upacara yang berhubungan dengan dengan siklus tanaman padi, yaitu:  Pertama, Ngaji makam turun bibit, tujuan riual ini adalah agar bibit yang ditanam tumbuh dengan baik dan juga sebagai media untuk memohon ijin kepada penguasa alam gaib yang menguasi tempat bertani (sawah) dan buah padi itu sendiri.  Ritual ini diselenggarakan pada musim tanam.  Kedua, Ngaji makam tunas setamba, yang dilakukan untuk menangkal penyakit dan belalang yang dilakukan saat menyuburkan (pemupukan) dan menyebarkan pestisida, dengan ritual ini mereka berharap padi yang ditanam dapat tumbuh subur dan selamat dari gangguan hama. Ketiga, Ngaji makam ngaturang ulak kaya, ritual dilakukan pada saat panen sebagai bentuk syukur bagaimanapun hasil panennya, dan sebagai harapan hasil panen pada musim berikutnya semakin banyak. Maka ritual yang dilakukan di masyarakat lombok mempunyai dua dimensi sekaligus yaitu dimensi pengharapan dan dimensi syukur.
F. Upacara Kurban
Pada masyarakat pesisir Kotabaru Kalimantan Selatan  mengadakan Upacara Adat macceratasi, yaitu ritual kurban atau upacara adat dengan menyembelih binatang, lalu  darah hewan ditumpahkan ke laut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah penghidupan dari laut. Ritual maccerati dilakukan  setiap menjelang tahun baru Masehi sekitar bulan Desember di Pantai Gedambaan.
Macceratasi dilaksanakan selama dua hari, pada hari pertama, sebelum ritual inti yakni menyembelih dan menumpahkan darah hewan ke laut, masyarakat setempat dipimpin oleh seorang tokoh adat mengadakan upacara Tampung Tawar, yaitu upacara memanjatkan doa kepada Tuhan. Dalam prosesi ini, seorang tokoh adat memimpin doa dengan duduk di antara sesaji yang terdiri dari berbagai bahan pokok mentah seperti beras, kelapa, gula, ayam yang masih hidup, dan air kembang. Pada hari kedua, dilakukan ritual melepas miniatur bagang, yaitu perangkat menangkap ikan berupa jaring yang dipasang di antara bambu-bambu penyangga di tengah laut. Di dalam miniatur bagang ini diletakkan berbagai makanan yang sudah matang untuk dilarung ke laut. Pelepasan bagang ini juga merupakan ungkapan terima kasih akan karunia Tuhan yang telah memberikan kekayaan laut yang melimpah[27].
Di Pulau Jawa yang lebih husus Laut Selatan, terdapat prosesi adat laut yang dinamakan hajat laut. Pada acara itu seekor kerbau atau kepalanya beserta sesajian lainnya diantarkan ke laut. Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Sura). Selasa dan Jumat Kliwon dianggap sebagai hari nahas sehingga nelayan tidak boleh melaut. Ketika sesaji menyentuh permukaan laut, belasan orang melompat dari perahunya dan menyerbu sesaji. Mereka berebut menciduk air laut di bawah dan di sekitar sesaji untuk disiramkan ke perahu masing-masing. Mereka percaya bahwa menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa hasil tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga menjadi perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkannya. Itulah pemuncak acara hajat laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu[28].







SIMPULAN

Agama dan keyakinan mempunyai berbagai dimensi, yaitu keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan dan konsekuensi-konsekuensi praktek keagamaan, mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agamanya.
Sakremen, ritual atau ceremony adalah sistem atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat. Sakramen atau ritual dalam agama asli indonesia, serangkaian ritual yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari dalam interaksinya dengan tuhan, seperti kelahiran, pernikahan, kematian, tanam panen, dan lain sebagainya.
Makna sakramen atau ritual tidak hanya dilihat dari bentuk ritualnya, akan tetapi memberi pesan-pesan bagi manusia,  karena  didalamnya mempunyai dua dimensi, yaitu : Pertama, dimensi pengharapan baik keselamata dan kesuksesan, kedua,  dimensi syukur kepada Tuhan.
Berbagai sakramen dalam kepercayaan di Indonesia dipengaruhi oleh sosio kultur dalam suatu daerah, maka tentunya bentuk dan cara sakramen yang berbeda begitu pula dalam pelaksanaannya baik dalam sakramen kelahiran, pernikahan, kematian, tanam panen, kurban, dan lain sebagainya.
.





DAFTAR PUSTAKA

Amstrong,  Karen.  2009. Masa Depan Tuhan. (Bandung : Mizan)

AG, Muhaimin . 2002Islam dalam Bingkai Budaya Lokal : Potret dari Cirebon, (Jakarta : Logos)

Dyson,  L. Dan Asharini. 1981. Tiwah, Upacara Kematian pada Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah  ( Jakarta : Depdikbud)

Ekadjati, Edi S.1995. Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan Sejarah, ( Jakarta : Pustaka Jaya)

Fatah, Abdul.2010.  Ngamumule tardisi sunda. Dalam makalah saresehan pupuhu sunda di kampung sirnagalih Garut.

Jamil,  Abdul  dkk. 2002. Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta : Gama Media)

Johnson, Doyle Paul. 1986.Teori Sosiologi Klasik dan Modern.  (Jakarta : Gramedia)

Kana, Nico L .1983. Dunia Orang Sawu, ( Jakarta : Sinar Harapan)


Kartapradja, Kamil .1985. Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia, (Jakarta : Yayasan Masagung.

Morris, Brian .2003. Antropologi Agama: Kritik Teori-Teori Agama Komtemporer, ter. Imam Khoiri (Yogyakarta: AK Group)

Munawir, Abdul Fattah.2006. Tradisi Orang-orang NU, ( Yogyakarta : Pustaka Pesantren)

Nasution, Harun. 1979. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. (Jakarta : UI Press)


Nottingham,  Elizabeth K. 1985. Agama dan masyarakat suatu pengantar Sosiologi Agama, (Jakarta : Rajawali)

O'Dea, Tomas F . 1985. Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal, terj. Yasogama, (Yogyakarta: Yayasan Solidaritas Gajah Mada)

Rasjidi,  H.M. 1994. Filsafat Agama. (Jakarta : Bulan Bintang)

Rozak, Abdul .2005.Teologi Kebatinan Sunda, Kajian Antropologi Agama tentang aliran kebatinan dan perjalanan, ( Bandung : Kiblat buku Utama)

Sholikhin,  Muhammad.  2010. Ritual dan tradisi Islam Jawa, (Yogyakarta : Narasi)

Sudharta, Tjok Rai. 1993. Manusia hindu (Denpasar:Yayasan Dharma Naradha)


Ukur , Fridolin. 1969. Tantang Jawab Suku Dayak.( Jakarta: BPK Gunung Mulia.)


http://muslims-says.blogspot.com/2012/04/bedah-tujuh-sakramen.html#ixzz28GZrj1w2 oleh Irene Handono diunduh 03 september 2012 Pukul : 21.00

Http://chandrarini.com/upacara tingkeban nujuh bulanan, diunduh pada tanggal 03 Oktober 2012 Pukul : 14.30

Http://chandrarini.com/upacara pesta laut di kalimantan, diunduh pada tanggal 05 Oktober 2012 Pukul : 21.15




[2] Harun Nasution, , Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. (Jakarta : UI Press 1979). Jilid I, hlm. 9.
[3] Elizabeth K. Nottingham. Agama dan masyarakat suatu pengantar Sosiologi Agama. (Jakarta : Rajawali 1985) cet  ke-1, hlm. 4.
[4] H.M Rasjidi. Filsafat Agama. (Jakarta : Bulan Bintang 1994) cet ix, hlm. 11.
[5] Karen Amstrong.  Masa Depan Tuhan. (Bandung : Mizan. 2009), hlm. 58.
[6] Abdul Rozak, Teologi Kebatinan Sunda, Kajian Antropologi Agama tentang aliran kebatinan dan perjalanan, ( Bandung : Kiblat buku Utama. 2005),hlm. 18
[7] Kamil Kartapradja, Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia, (Jakarta : Yayasan Masagung. 1985), hlm. 59.
[8] Tomas F O'Dea, Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal, terj. Yasogama, (Yogyakarta: Yayasan Solidaritas Gajah Mada. 1985), hlm. 7
[9] Ibid, hlm. 120.
[10] http://muslims-says.blogspot.com/2012/04/bedah-tujuh-sakramen.html#ixzz28GZrj1w2 oleh Irene Handono diunduh 28 september 2012 pukul 21.00
[11] Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial. (Jakarta: Dian Rakyat.1990).hlm.190
[12] Ibid, hlm 192
[13] H.R. Chalifah Jama’an, hlm. 283
[14] Fridolin Ukur. Tantang Jawab Suku Dayak.( Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1969), hlm. 75
[15] Abdul  Jamil dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta : Gama Media. 2002), hlm.122.
[16] Abdul Fatah, Ngamumule tardisi sunda. Dalam makalah saresehan pupuhu sunda di kampung sirnagalih Garut, Tanggal 10 September 2010, hlm. 5.
[17] Http://chandrarini.com/upacara tingkeban nujuh bulanan, diunduh pada tanggal 03 Oktober 2012 jam 14.30
[18]  Tjok Rai Sudharta, Manusia hindu (Denpasar:Yayasan Dharma Naradha.1993), hlm. 10.
[19] Muhammad Sholikhin,  Ritual dan tradisi Islam Jawa, (Yogyakarta : Narasi.2010), cet ke-1. hlm. 110.
[20] Ibid, hlm. 111.
[21] Abdul Fatah, Ngamumule tardisi sunda. Dalam makalah saresehan pupuhu sunda di kampung sirnagalih Garut, Tanggal 10 September 2010. hlm. 7.
[22] Abdul Fattah  Munawir, Tradisi Orang-orang NU, ( Yogyakarta : Pustaka Pesantren. 2006) hlm .72.
[23] L. Dyson Dan Asharini, Tiwah, Upacara Kematian pada Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah  ( Jakarta : Proyek Media Kebudayaan Depdikbud. 1981), hlm. 69.
[24] Muhaimin AG, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal : Potret dari Cirebon, (Jakarta : Logos. 2002), hlm. 234
[25] Nico L Kana, Dunia Orang Sawu, ( Jakarta : Sinar Harapan.1983), hlm. 121.
[26] L. Dyson Dan Asharini, hlm. 80
[27] Http://chandrarini.com/upacara pesta laut di kalimantan, diunduh pada tanggal 05 Oktober 2012  Pukul : 21.15
[28] Edi S Ekadjati, Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan Sejarah, ( Jakarta : Pustaka Jaya. 1995), hlm. 72-73.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar