Senin, 15 Oktober 2018

SERAT DEWA RUCI DAN SULUK GATOTLOCHO

SERAT DEWA RUCI DAN SULUK GATOTLOCHO
Oleh:
Ade Nurpriatna, M.Ud.
Pendahuluan
Cerita Dewa Ruci diduga ditulis kira-kira pada masa peralihan agama, atau pada awal tersebarnya Islam di Tanah Jawa. Cerita aslinya, yang dianggap Babon, dinisbahkan kepada Mpu Ciwamurti. Tetapi naskah-naskah kemudian dihubungkan kepada Ajisaka, yang konon menjadi murid Maulana Ngusman Ngali, seorang penyebar agama Islam. Pada tangan Sunan Bonang, Serat Dewa Ruci yang asli itu diterjemahkan dari Bahasa Kawi ke dalam bahasa Jawa Modern. Terjemahan ini tersimpan di perpustakaan pribadi R.Ng. Ronggowarsito.[1]
Serat Dewa Ruci merupakan karya sastra yang mengandung nilai moral jawa yang berakulturasi dengan ajaran tasawuf islam. Karya sastra ini diciptakan oleh pujangga Yasadipura, seorang sastrawan terkemuka di lingkungan kebudayaan jawa pada abad 18. Dalam kancah pemikiran Jawa, Yasadipura menjadi pelopor utama dalam melakukan pembaharuan kebudayaan. Salah satu keturunan Yasadipura yang menjadi pemikir ulung lainnya adalah pujangga Ronggowarsito. Adapun makalah ini hendak mengkaji nilai-nilai moral Islam yang dikandung dalam Serat Dewaruci karya Yasadipura. Dalam lintasan kebudayaan Jawa, serat ini menjadi bahan refleksi bagi para kasepuhan Jawa. Pengkajian terhadap Serat Dewaruci ini perlu dilakukan guna mengetahui seberapa jauh pengaruh nilai-nilai rohaniah itu bagi kehidupan rohani masyarakat Jawa.
Intisari Serat Dewaruci yaitu memuat cerita tentang Bima yang mawas diri dengan tujuan menyucikan dirinya, agar dapat menyatu dengan Khaliknya atau pamoring kawula Gusti. Serat tersebut merupakan karya sastra Jawa klasik yang mengajarkan tasawuf Islam yaitu  agar manusia mencapai taraf paripurna atau insan kamil.[2] Pengembaraan Bima dalam mencari air suci hingga masuk ke dalam gua garba Dewaruci. Wejangan Dewaruci yang disampaikan kepada Bima dalam gua garba dapat ditafsirkan sebagai wejangan Bima klasik yang sudah pada taraf superego kepada janin yang masih taraf awal yang berlangsung dalam gua garba ibu Kunthi. Bima pertapa yang sudah pada ego mendengarkan wejang-an tersebut dengan penuh perhatian.
Wejangan Dewaruci berinti lima aspek yakni : pancamaya, makrokosmos dan mikrokosmos, pramana, ilmu palepasan, hidup dalam mati dan mati dalam hidup. Pancamaya (lima bayangan) dapat dinterpretasikan sebagai bayangan yang diperoleh lantaran pancaindera dan disimpan dalam ketidaksadaran hati. Pada saat panca indera menanggapi segala sesuatu dari alam sekelilingnya, ia didorong oleh nafsu. Makrokosmos adalah alam semesta seisinya yang dapat ditanggapi oleh pancaindera manusia, kemudian di-simpan dalam ketidaksadaran sebagai pancamaya. Dengan demikian, isi alam semesta terdapat pada diri manusia, sekalipun hanya sebagai bayangan maya, bersifat semu.
Pramana menunjukkan pengertian akan denyut jantung. Jadi selama jantung masih berdenyut, selama itu raga manusia masih hidup. Sedang yang menghidupi Bra-mana adalah suksma sejati yang dapat merasakan adanya sifat-sifat Ketuhanan Yang Maha Esa pada raga dan jiwa manusia. Bilamana raga manusia mati, pramana pun ikut mati. Akan tetapi, suksma sejati hidup terus dalam alam yang tidak terbatas waktunya, tanpa winates.
Ilmu pelepasan (ilmu menghadapi kematian) yang diwejangkan oleh Dewaruci kepada Bima mencakup tentang kematian dan pegangan hidup. Dijelaskan bahwa hidup tiada yang menghidupi karena sudah ada sejak makhluk berupa janin. Hidup tidak bersela waktu artinya hidup itu abadi (langgeng). Dengan demikian yang mengalami kematian adalah raga, dan raga yang telah mati kembali ke tanah sesuai dengan pernyataan dari debu. Sedangkan jiwa dan suksma yang menghidupi raga, selama hayat dikandung badan tidak mengalami kematian, tetapi kembali kepada asalnya, yaitu Yang Maha Pencipta semesta alam (Sang Akartining Bawana atau Kang Murbeng Gesang).
Adapun kendala mati yang sempurna ialah keduniaan. Oleh karena itu, Dewaruci mewejangkan agar tidak terikat kepada sesuatu yang serba duniawi. Mengenai pandangan hidup yang nyata, Dewaruci mengatakan bahwa Bima jangan hanya menguasai keperluan hidup saja, tetapi dia harus juga menguasai keperluan ajal/mati, sakaratul maut. Wejangan Dewaruci mengenai hidup adalah mati dan mati adalah hidup (mati sajroning ngaurip) menekankan bahwa agar selama orang masih hidup, nafsu yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan jahat atau jelek, hendaknya dipadamkan sehingga yang ditinggal hanya nafsu yang mendorong perbuatan baik. Dengan jalan demikian manusia dapat menyatupadukan diri dengan Khaliknya.
Tokoh Bima dalam cerita Dewaruci itu menggambarkan satria perkasa dalam kekuatan fisik yang luar biasa dan sebagai seorang wiku juga dengan kearifan batin. Selain itu, Serat Dewaruci mengandung nilai mistik tinggi dan mempunyai dampak yang selalu meningkatkan kehidupan rohani orang Jawa. Bima mengiaskan seorang ahli mistik Jawa. Pengetahuan mistik bagi orang Jawa memberikan kesadaran bahwa manusia dan alam semesta merupakan kesatuan dengan hakikat ilahi (one with devine essence) dan dalam kesadaran mistik (mistic consciousness) tidak ada sesuatu pun kecuali Tuhan. Kesatuan mistik (mistic union) ini berarti bahwa hanya Tuhanlah yang mengisi kesadaran mistik. Di Jawa kesatuan Tuhan, manusia dan alam disebut pamoring kawula Gusti.[3]

 PEMBAHASAN
A.      Filosofi Dewa Ruci
Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawe adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti (pencipta) yang dalam bahasa jawa lebih populer dengan manunggaling kawula gusti atau pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.
Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada sang pencipta, yang diyakini memiliki moral yang baik, jujur dan bersih. Beberapa laku harus dipraktekan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamyu hayuning bawono. Kejawen merupakan aset dari orang jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakikat hidup yang mengandung nilai-nilai spiritual yang tinggi.
Tindakan tersebut terbagi dalam tiga bagian. Yaitu tindakan simbolis dalam realigi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam realigi adalah contoh kebiasaan orang jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus disimbolkan agar dapat diakui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan gusti ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkan Maha Kuaos dan sebagainya. Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu mendoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, serarus hari, satu tahun, dua tahun sampai seribu harinya setelah seseorang meninggal (tahlilan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit, wayang golek, warna yang ditandakan pada sebuah wayang merupakan penggambaran karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.[4]
Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupannya. Maka orang mulai berpikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai objek eksploitasi dan penelitian belaka.
Kebiasaan orang jawa yanng percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang keempatnya dipercaya akan memperkuat ruamah baikmsecara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, kebudayaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi pada dasarnya simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia, melainkan manusialah yang akan tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya cakra panggilan. Orang jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari kehidupannya.
Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.[5] Dalam bentuk kakawin (tembang) oleh pujangga Surakarta, Yosodipuro berjudul : Serat Dewaruci Kidung Iyang disampaikan dalam bentuk cerita. Intisari cerita tersebut yaitu : bahwa pihak kaum Kurawa dengan negeri Amarta, ingin menjerumuskan pihak pandawa yangmana negeri para Pandawa dikenal dalam dunia pewayangan dengan negeri Astina. Pada dasarnya antara Pandawa dan Kurawa adalah bersaudara, namun dalam cerita tersebut para kurawa selalu ingin menjerumuskan pandawa pada kesengsaraan, dan yang ditugaskan untuk itu adalah guru mereka Durna yang lebih populer dengan sebutan Dorna dalam pewayangan golek Jawa Barat.
       Kisah Bima dapat dipakai untuk melukiskan seseorang yang dapat dilakukan secara lahir (dzikir jahri) dan juga dapat dilakukan secara batin (dzikir sirri). Penghayatan dzikir sirri senada dengan penghayatan semedi. Ringkasan cerita Serat Dewaruci per episode dengan diberi komentar tafsirnya. Secara ringkas analisisnya dapat diungkap sebagai berikut:
      1.      Bima berguru pada Durno
Artinya orang yang ingin mendalami ilmu agama, dia harus berguru kepada orang yang berilmu. Meskipun kadang-kadang ada orang berilmu yang bertabiat kurang terpuji. Dalam mencari ilmu seseorang harus selalu berbaik sangka (khusnudz dzan) terhadap guru, sebagai-mana yang telah dicontohkan oleh Bima terhadap gurunya, Resi Drona.
      2.      Drona menganjurkan Bima untuk membongkar gunung Reksamuka.
artinya orang yang mendalami ilmu tarikat harus melakukan hal-hal yang berat, seberat membongkar sebuah gunung. Misalnya dia harus menghilangkan sifat keduniaannya.
     3.      Bima bertemu dua raksasa besar, Rukmuka dan Rukmakala sewaktu Bima membongkar gunung Reksamuka. Kedua Raksasa itu berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh Bima.
Artinya; orang yang berusaha mensucikan diri harus mampu mengurangi semua godaan duniawi. Sedang Rukmuka melambangkan nafsu pancaindera yang selalu membawa manusia menuju kesesatan. Sedang Rukmakala melambangkan akal pikiran yang sering lepas kendali (kebablasen) sampai membahayakan bagi keselamatannya sendiri. Kedua rintangan besar itu mampu diatasi oleh Bima meskipun dengan perjuangan berat.
     4.      Sesudah dibunuh oleh Bima, kedua raksasa itu berubah menjadi dua dewa. Karena keduanya telah ditolong dapat kembali berwujud dewa, Bima diberi 8 anugerah Sabuk Cindhe Wilis dengan Bara Kembar dan dapat dipakai di paha kanan kiri.
Artinya sudah menjadi kebiasaaan bila seseorang yang hendak menyucikan diri itu harus mau menutup mata dan telinga terhadap ejekan orang lain. Lama-kelamaan ejekan yang menjadi beban itu akan lenyap juga. Mereka yang mengejek akhirnya mengakui kebenarannya. Sedang hadiah (Sabuk Bara dengan Cindhe Kembar) melukiskan orang yang berpetualang mencari ilmu dengan tekad kuat laksana ikat pinggang (cindhe). Bara di kanan menun-jukkan perilaku yang harus melepaskan diri dari sifat yang memegang teguh ajaran guru.
      5.      Dua dewa menyuruh Bima kembali kepada Resi Drona untuk menanyakan tempat sesungguhnya Tirta Prawita Sari, sebab di Gunung Reksamuka tidak ada.
Artinya bila mentaati perintah guru, si murid akan semakin banyak pengalaman yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Benar atau tidak, perintah guru kalau dilaksanakan akan tetap bermanfaat.
     6.      Bima menghadap gurunya, dan Drona memberi wejangan tentang keharusan berbakti kepada Dzat yang harus disembah. Kemudian Bima disuruh mencari Tirta Prawita Sari di dasar lautan.
Artinya seseorang yang sudah mendapat ilmu tarikat. Semakin kuat orang menuju hakikat agama, maka hal-hal yang menjadi penghambatnya semakin besar. Adapun tempat Tirta Prawita Sari di dasar laut memberi makna bahwa untuk sampai pada tingkat makrifatullah memang sukar, jauh dan dalam. Maka dia harus terjun dan menyelam dalam lautan. Ini berarti bahwa orang itu harus menyucikan sifat-sifat Allah SWT sebagaimana tersurat dalam Asmaul Husna.
   7. Mendengar niat Bima pergi ke lautan, ibunya dan para Pendawa menangis dan berusaha mencegahnya. Tetapi tekad Bima tidak bisa dikendurkan.
Artinya seseorang yang sudah terpikat dengan makrifatullah, dia mesti mau melepaskan diri dari segala hal yang paling dicintainya.
    8. Dalam perjalanan Bima bertemu dengan empat saudaranya tunggal Bayu. Mereka hendak mencegah kenekadan Bima, tetapi dia lari meninggalkan mereka. Keempatnya tetap membantu Bima dengan cara me-nyatukan diri dengan berwujud Gajah Situbanda.
Artinya seseorang yang hendak mencapai suatu tujuan mulia tetap mendapat godaan dari keempat nafsu (amarah, lawamah, sufiah dan muthmainah) yang ada pada dirinya. Bila berhasil, dia harus mampu menga-tasinya.
    9.      Bima heran karena di lautan dia tetap terapung. Baru setelah Gajah Situbanda yang menjaganya melepas, Bima tenggelam dalam arus samudera.
Artinya seseorang yang telah berhasil melepaskan nafsunya, orang tersebut akan terbuka pintu makri-fatullahnya.
    10.  Ketika Bima hanyut, tiba-tiba ada ular besar yang menggigit tubuh dan pahanya. Dengan cekatan naga itu ditusuk dengan Kuku Pancanaka dan mati seketika. Anehnya Bima ikut mati juga.
Artinya naga menurut ilmu hakikat menggambarkan utusan Tuhan yang berwujud malaikat. Malaikat menolong orang yang tidak tahu tentang nasibnya, agar tidak terlalu sama menderita. Peristiwa ini mirip dengan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhamad Saw
   11.  Bima tidak menyadari bahwa dirinya sudah berupa suksma. Dia duduk bersimpuh ketika berhadapan dengan Dewaruci. Dia mengatakan bahwa dirinya hendak mencari Tirta Prawita Sari. Kemudian Bima disuruh masuk ke dalam tubuh Dewaruci.
Artinya orang yang mencari tingkatan makrifat kalimat syahadat yang mulamula. Untuk mencapai anugerah Tuhan harus dengan jalan sesuai dengan lahir batinnya.
     12.  Karena Dewaruci kecil tubuhnya. Bima bingung untuk masuk. Lalu diberi petunjuk untuk masuk lewat telinga. Dalam tubuh Dewaruci dia linglung tidak tahu arah kiblat. Biar tenang, dia disuruh semedi sebentar.
Artinya meskipun berwujud ruh, dia tetap punya pe-rasaan dan akal budi. Sudah wajar orang yang berada di alam baru itu terkejut seperti bayi lahir. Dengan dzikir kepada Allah SWT jiwa akan tenang damai.
     13.  Bima menjawab pertanyaan Dewaruci bahwa dirinya merasa berada di dalam alam agung lengkap dengan segala isinya. Setelah itu disuruh semedi dan dia melihat lima macam cahaya yang saling bersaing.
Artinya orang yang sudah pada tingkat hakikat agama, maka jiwanya telah makrifat kepada hakikat alam kabir (besar) dan saghir (kecil). Sedang kelima cahaya itu melambangkan panca indera yang cenderung ingin memuaskan hawa nafsu.
     14.  Bima disuruh semedi lagi dan dia melihat wujud gana berbentuk emas. Dia merasa di alam indah permai, mulia dan wangi baunya, dia berniat tidak pulang ke dunia.
Artinya menggambarkan ruh yang telah berada di surga maya (surga nafi isbat). Meskipun sudah mera-sa puas dan ingin menetap di sana, tetapi niat itu tidak mungkin karena tugasnya di dunia belum sele-sai. Kisah ini juga sangat mirip dengan kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw.[6]
Dari intisari cerita mengenai dewaruci,  jelas sekali ada kesesuaian dengan ajaran tasawuf atau faham tasawuf dalam Islam. Seseorang untuk mencapai tingkat makrifatullah maka harus melalui jalan seperti apa yang telah diceritakan dalam serat dewa ruci.

B.       Korelasi Nilai Serat Dewaruci dengan Islam
Pada dasarnya ajaran dalam Agama Islam tidak mengenal Trimurti dan sistem dewa-dewa yang pantheistis. Maka para Wali Sanga kemudian mengubah suatu sistem hirarki kedewaan yang menempat-kan dewa – dewa itu sebagai pelaksana perintah Tuhan saja dan bukan sebagai Tuhan. Juga disusunlah cerita-cerita baru yang bernafaskan keislaman seperti Dewaruci, Jimat  alimasada dan Dewaruci. Dengan jalan ini, maka Islam menyebar di kawasan Nusantara berlangsung secara halus dan damai, tanpa ada keguncangan dan keterkejutan.[7]
Pada zaman Kerajaan Surakarta awal, Serat Dewaruci amat digemari. Hal ini terlihat dengan banyaknya tanggapan atau resepsi dari masyarakat, yang kemudian mengolahnya kembali, ditransformasikan menjadi berbagai macam karya sastra, dengan isi ajaran Islam yang lebih meningkat. Salah satunya adalah Dewaruci yang digubah oleh Ranggawarsita.[8] Dewaruci mengisahkan perjalanan Bima mencari tirta prawita sari ke Gunung Raksamuka dikatakan telah menjalani makrifat. Membunuh raksasa Rukmuka dan Rukmakala diibaratkan membuka Bait-al-Makmur dan Bait-alMukadas. Membunuh Naga Nemburnawa dikatakan
mematikan perasaan, pertemuan dengan Sang Dewaruci diibaratkan bertemu dengan dzat sejati, gua garba Dewaruci diibaratkan alam insan kamil atau Manusia Sempurna.[9]
Serat Lampahan Bimarodra yang digubah oleh KRT Wreksadiningrat pada tahun 1923 itu, dikatakan Bima sudah menjadi pendeta yang mengajarkan Agama Islam. la mengajarkan syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Menurut kitab ini, syariat adalah ‘laku badan’, tarikat sebagai ‘laku hati’, hakikat artinya mengetahui “adanya Tuhan” dan “makrifat” artinya mengetahui ‘dua hal yang menyatu’ (roroning atunggal). Warna cawat Bima poleng bintulu itu telah diberi makna. Hitam dikatakan lambang nafsu lawamah, yaitu angkara murka. Merah melambangkan nafsu amarah menjuruskan kepada kemarahan. Kuning melambangkan nafsu sufiah yaitu keinginan jasmaniah. Putih melambangkan nafsu mutmainah, yaitu rasa terima kasih atas apa yang diberikan oleh Tuhan.
Serat Bima Bungkus, yang digubah oleh Can Cu An pada tahun 1936 merupakan gabungan dari cerita Bima Bungkus zaman Majapahit yang pada awal abad ke-20 mengalami transformasi menjadi Lampahan Bima Bungkus oleh KGPAA Mangkunagara VII. Dewaruci Wirid gubahan RNg Ranggawarsita membicarakan lahirnya insan kamil. Ajaran Dewaruci tentang pamoring kawula Gusti dalam Serat Dewaruci gubahan Kyai Yasadipura I, ditambah dengan ajaran Martabat Tujuh, yang menerangkan tingkat-tingkat proses terbentuknya manusia, dari martabat ahadiyah sehingga mencapai tingkat insan kamil yaitu manusia sempurna. Juga diceritakan bagaimana calon manusia sempurna tadi mendapat sembilan macam roh, yaitu: roh ilapi, roh rabani, roh rohani,roh nurani, roh kudus, roh rahmani, roh jasmani, roh nabati dan roh hewani.
Kepustakaan Islam Kejawen, pengaruh ajaran tasawuf dan tuntutan budi pekerti luhur terasa sangat menonjol. Demikian juga istilah-istilah Arab yang berkaitan dengan Agama Islam dan tasawuf, merupakan bagian kepustakaan Jawa. Islam telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, seseorang akan sulit memahami kepustakaan Jawa dengan baik, tanpa pengenalan ajaran Islam dan pengetahuan bahasa Arab yang cukup. Dalam gubahan Serat Dewaruci karya Tan Khoen Swie berbentuk sekar macapat misalnya, mengandung beberapa istilah Arab seperti: wujud, dzat, sifat, makrifat, nikmat, dan manfaat. Tanpa disadari, baik Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia banyak me-nyerap unsurunsur Bahasa Arab.
Berkaitan dengan dzat Tuhan yang diibaratkan seba-gai samudra, manusia adalah satu titik air di dalamnya. Lukisan semacam itu sama halnya dengan ajaran Serat Dewaruci, yaitu Bima masuk ke tubuh Dewaruci melalui telinga kiri.[10]
Konsep manunggaling kawula Gusti atau kesatuan manusia dengan Tuhan (wahdatul wujud) yang di-pergunakan untuk menggambarkan, dalam kepustakaan Islam kejawen, adalah curiga manjing warangka, warangka manjing curiga. Yakni manusia masuk dalam diri Tuhan, laksana Arya Sena masuk dalam tubuh Dewaruci. Atau sebaliknya, warangka manjing curiga. Yakni Tuhan masuk (nitis) dalam diri manusia, seperti halnya dewa Wisnu nitis pada diri Kresna. Dan paham nitis, yakni masuknya roh dewa dalam diri manusia, atau roh manusia dalam binatang masih kelihatan dalam Serat Wirid Hidayat Jati. Roh manusia yang sesat tidak dapat kembali ke dalam singgasana Tuhan, dikatakan akan nitis dalam alam brakasakan (jin), bangsa burung, binatang dan air.
Pembahasan tentang penghayatan ghaib dilukiskan sebagai arus balik dari kerangka pemikiran tajalli dalam ajaran martabat tujuh (ahadiyat, wahdat, wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajzan, insan kamil). Dalam Serat Wirid Hidayat Jati penghayatan ghaib diterangkan sebagai wangsit Sunan Kalijaga.
Penghayatan ghaib tujuh martabat diambil dari Arya Sena sewaktu dalam tubuh dewaruci. Penghayatan Arya Sena dalam Serat Wirid Hidayat Jati disusun tujuh martabat:
a)      Martabat Pertama
Yakni adanya awang-uwung yang tidak terbatas dan tidak berkiblat ketika Arya Sena masuk ke dalam tubuh Dewaruci melalui telinga kirinya.
b)      Martabat kedua
Adanya empat macam cahaya : hitam, merah, kuning, dan putih. Dalam Serat Dewaruci ketiga cahaya pertama itu lambang nafsu tidak baik. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, cahaya hitam dihubungkan dengan alam penitisan, cahaya merah dengan alam bangsa brakasaan, cahaya kuning dengan alam bangsa burung dan cahaya putih dengan alam penasaran tempat binatang air.
c)      Martabat Ketiga
Adanya lima macam cahaya : hitam, merah, kuning, putih dan hijau. Dalam Serat Dewaruci dikenal dengan pancamaya (lima macam semu) lima cahaya itu dalam Serat Wirid Hidayat Jati melambangkan lima indra.
d)     Martabat Ketiga
Adanya lima macam cahaya : hitam, merah, kuning, putih dan hijau. Dalam Serat Dewaruci dikenal dengan pancamaya (lima macam semu) lima cahaya itu dalam Serat Wirid Hidayat Jati melambangkan lima indra.
e)      Martabat keempat
Serat Dewaruci ada nyala delapan sinar. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati ada perwujudan warna pramana atau alam penasaran, yakni alam bangsa jin hitam, jin merah, jin hijau, jin kuning, jin putih, jin biru, jin ungu, dan jin dadu.
f)       Martabat Kelima
Termasuk alam uluhiyah (keilahian) yang ada tawon gumana (lebah sedang menggema) yang berada dalam mega fana. Dalam Serat Dewaruci, tawon gumana disebut juga golek gading sebagai perwujudan pramana.
g)      Martabat Keenam
Martabat ini ada perwujudannya golek gading yang berada dalam magam baqa dan termasuk tempat penasaran.
h)      Martabat ketujuh
Terdapat atma yang merupakan tajalli Tuhan. Atma disebut hayyu atau hidup. Pada martabat ini tercapailah penghayatan manunggal dengan Tuhan, sehingga tidak dapat dibedakan lagi antara atma dengan Tuhan.
Ajaran ini disebut juga ngelmu kasampurnan, yang membuat hidup manusia menjadi sempurna. Penghayatan ini kelihatan merupakan pengaruh dari tasawuf. Penganut tasawuf umumnya memandang orang yang berhasil mendapatkan makrifat dengan Tuhan sebagai insan kamil (manusia sempurna) seperti wali Allah SWT (kekasih Allah SWT) yang memiliki kemampuan luar biasa yang disebut keramat. Pada kepustakaan Islam kejawen ilmu ketuhanan disebut ngelmu sangkan paran. Mengenal Tuhan berarti mengenal asal kejadian
manusia, yang sekaligus tempat kembalinya di kemudian hari. Hal ini merupakan penafsiran kejawen terhadap ajaran Islam “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. Inti ajaran Dewaruci misalnya adalah pengertian tentang Tuhan. Pengertian ini disebut sebagai air suci yang dapat enentramkan hidup Arya Bima. Oleh karena itu, ilmu tentang Tuhan sebagai sangkan  araning dumadi, dalam kejawen dinamakan ngelmu kasampurnan.
Masyarakat Jawa saat itu merasa bahwa ajaran yang terdapat dalam Serat Dewaruci itu sesuai dengan falsafah hidup mereka, maka Serat Dewaruci itu mendapat tanggapan yang besar. Ajaran tasawuf banyak dituangkan dalam kitabkitab suluk dengan formasi dialog antar tokohnya sebagaimana guru kebatinan sedang memberi wejangan kepada murid-muridnya. Nilai-nilai moral sufistik dalam Serat Bimapaksa pun disampaikan dengan cara dialog antara Begawan Bimapaksa dengan murid-muridnya di Pertapaan Argakelasa.
Al Qur’an menyebut bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang terbaik dan mulia, lebih mulia dari makhluk lain atau ciptaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia dibandingkan dengan makh-luk lain memiliki keistimewaan yang membawanya kepada kedudukan istimewa pula, yakni sebagai khalifah. Dalam kedudukannya ini manusia diberi wewenang untuk membangun dan secara bersama-sama.

C.      Suluk Gatotlocho
Dikisahkan dalam bagian pertama dalam suluk ini, sang tokoh utama yakni Gatoloco betemu dengan para ahli agama yaitu guru Abdul Manaf dan Ahmad ‘Arif yang disertai enam santrinya terjadilah dialog sebagai beikut:
“Santri berkata “apakah anda makan babi? Asal mau anda telan,tidak takut akan dosa”; Gatoloco menjawab,”memang benar tidak salah seperti yang anda katakan bahkan sekalipun daging anjing, apabila kita lihat baik dan bukan curian (saya mau juga)”.[11]
Dari percakapan diatas dapat dapat diambil kesimpulan yaitu topik permasalahan diatas ialah mengenai halal haram suatu makanan, dalam hal ini ialah makan hewan babi.Santri menanyakan kepada Gatoloco apakah ia (Gatoloco) makan babi ,Gatoloco menjawab dengan jawaban seenaknya sendiri bahwa jawab Gatoloco babi itu baik dimakan asal bukan dari hasil curian.
Dalam aturan Agama Islam sudah dijelaskan bahwa hukum makan babi ialah haram.Keharaman babi sudah dijelaskan dalam kitab Al-Quran.
          “Anjing itu misalnya, aku pelihara sejak kecil, siapakah yang mengadukan aku? Daging anjing rasanya lebih halal ketimbang anjing kecil (anak kambing), walau daging kambing, kalau toh itu hasil curian, bukankah itu lebih haram ketimbang daging anjing? Babi ataupun celeng sekalipun berasal dari membeli pasti lebih suci, lebih halal dimakan?”[6]
Mendengar jawaban Gatoloco yang asal ngomong itu, para santri menjadi jengkel, para santri itu menjawab omongan Gatoloco dengan nada emosi, yakni ”SINOM” sebagai berikut:
“’Ketiga orang santri ketika mendengar (jawabannya) lalu berbareng mencaci ”silit babi” ; Ki Gatoloco berkata pula : “apakah silit babi dibawa sang empunya? Lagi pula tak menyentuh tubuhku”! Santri tiga pun menjawab lagi,”biyangmu silit babi”. Gatoloco menyahut pula, ”itu aneh benar”.
Dalam suluk Gatoloco diperlihatkan tentang ketidaksanggupan para santri berdebat dengan Gatoloco. Para santri ini marah karena jawaban Gatoloco yang asal ngomong , para santri itu kemudian menyerahkan permasalahan mereka (tentang Gatoloco) kepada guru mereka.
       Dalam dialok selanjutnya dengan para santri “Gatoloco pelan menyahut, mengapa saya ini kurus? Semata-mata menurut kehendak baginda Rasul dan Nabi yang saya ikuti, dimana saya harus pergi ke tempat madat (Jawa,ngepakan) untuk membeli candu dan klelet (bekas- bekas candu yang melekat dialat minum madat ), serta menghisapnya disana candu itu dibakar dengan api, sebab Allah lah mengajarkan seperti itu.
Dialog diatas sebenarnya menggambarkan sifat-sifat setan yang menggoda kaum beriman. Sesungguhnya Allah telah memperingatkan manusia akan permusuhan setan dan membberitahukan kepada kita bahwa setan adalah musuh manusia. Allah memperingatkan kepada manusia akan perangkap-perangkap dan tipu muslihat setan.
Selanjutnya Gatoloco berkata: “Jika aku tak menuruti perintahnya, niscaya hukumannya sangat berat, begitu hebat sakitnya, sehingga aku tak bisa tidur, seluruh tubuhku seperti terasa dicabut-cabut nyawaku”.
Santri tiga pun berkata : “Engkau ini tidak sopan! Masa dikatakan Rasul di Ngepakan? Padahal Rasul itu dihormati seluruh manusia dibumi, dan berada dikota Mekah”.
Dari percakapan diatas jelas bahwa jawaban Gatoloco memancing para santri marah itulah salah satu sifat setan yaitu memancing manusia marah. Dalam aturan Agama Islam dikatakan bahwa manusia itu memiliki sifat marah tetapi sifat ini harus dikendalikan, karena apabila tidak akan sangat berbahaya. Didalam sebuah Hadist dikatakan bahwa Rosulullah bersabda: “Orang kuat ialah bukan orang yang pandai bergulat, tapi orang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan marahnya jika ia marah”.
Berikut ini adalah gambaran seorang santri yang kebingungan menerima pertanyaan Gatoloco yang asal ngamong:
“Kamu semua adalah santri bingungan”, kata Gatoloco, Anda keliru, Rasul yang ada di Mekah kau sembah, bukankah ia sudah wafat? Ia tempatnya di tanah Arab; ia tak ada lagi, sedang anda selalu menyembahnya tiap hari jungkir balik, apakah bisa sampai padanya?”
Omongan gatoloco diatas menggambarkan tentang kaum muslimin sekarang dalam ibadah shalatnya hanya jungkir balik saja,kata Gatoloco Sholat itu harus tawajuh atau harus sampai ke hati, tidak hanya jungkir balik saja.
“Sembahyang demikian tak ada artinya, itu berarti sia-sia terhadap badanmu sendiri; anda mesti menyembah Rasulmu sendiri dengan badanmu; Menyembah Rasul dengan cara demikian tak berguna, tiwas berteriak-teriak tidak bisa diterima Allah, karena membuat Tuhan tak bisa tidur karena mendengar suaramu itu”.
Omongan Gatoloco diatas sebenarnya mengkritik kepada kaum muslimin yang shalatnya tidak khusyu (konsentrasi), menurut Gatoloco shalat mereka hanya jungkir- balik saja dan tidak ada artinya bagi Allah. Oleh karena itu sebaiknya janganlah kita memfonis bahwa karya sastra ini buruk dan tidak boleh dibaca karena sesungguhnya kaerya sastra ini baik karena terdapat banyak pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya.

D.      Hidup dan Wayang
Guru para santri itu antara lain bernma Ngabdul Jalal dan Kasan Besari. Dalam Tembang Asmaradahana dinyatakan bahwa Ngabdul Jalal bertanya kepada Gatoloco dengan pelan-pelan Dia bertanya mengenai kitab apa pegangan Gatoloco?, Gatoloco menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan jawaban yang secara harfiah akan sulit untuk dipahami, karena jawaban Gatoloco ialah dengan menggunakan bahasa yang harus dipahami dengan atau dari segi hakekat.
Kemudian guru para santri yang satunya lagi, yaitu Kasan Basri bertanya kepada Gatoloco dengan pertanyaan: Apakah Gatoloco sembahyang (shalat)?, mendengar pertanyaan seperti itu Gatoloco menjawabnya dengan jawaban yang lagi-lagi dengan bahasa “jarwodosok” atau bahasa kias sehingga harus dipahami dari segi hakekat. Gatoloco menjawabnya dengan jawaban bahwa ia (Gatoloco) sembahyangnya itu terus menerus dan tak berubah atau tetap. Jawaban Gatoloco tersebut sebenarya mengandung sindiran berdasarkan Al-Qur’an bahwa sembahyang itu sebenarnya tidak boleh gothang (sebentar-sholat sebentar enggan). Ini dilarang dalam Al-qur’an, ancamannya neraka Wel. Jawaban diplomatis tersebut sebenarnya sindiran terhadap kaum ahli syare’at, sembahyangnya tidak sampai di hati seolah imannya hanya di tenggorokannya.
Kemudian selanjutnya Gatoloco berkata lagi yaitu dengan kata-kata yang penuh dengan bahasa jarwodosok sehingga perlu dipahami dari segi hakekat. Adapun mengenai astilah hakekat itu sendiri dikenal dalam golongan sufi atau ahli tasyawuf. Golongan sufi ini membagi manusia dalam empat golongan yakni syare’at, hakekat, tarekat, dan makrifat.
Nur Muhammad menjadi bagian tanya jawab Gatoloco dengan Kasan Besari berikutnya, mereka saling berdebat. Pendapat Gatoloco mengenai Nur Muhammad yatiu sebagai berikut: bahwa Allah merupakan pencipta alam semesta beserta isinya yang kemudian menciptakan makhluk-makhlukNya seperti malaikat, jin, manusia, tumbuhan dan lain-lain. Dan menurut Gatoloco summber penciptaan Allah itu semua adalah Nur Muhammad.
Namun pendapat Gatoloco ini ditentang Kasan Besari, ia menyatakan bahwa pendapat Gatoloco tidak masuk akal, Kasan Besari brekata: “Sebelum Rasulullah dan sahabat lahir di dunia, kan sudah ada bintang, bulan, dan matahari; jadi kalaubegitu bulan, matahari dan lain-lain itu mendahului Nabi Muhammad. Jadi mengapa dikatakan Nur Muhammad mendahului semua itu.
Tetapi secar global dapat disimpulkan bahwa yang disebut Nur Muhammad itu sebenarnnya Nur atau cahaya yang dimiliki Muhammad SAW yang kini telah dijadikan manusia rasul Allah.

E.       Simpulan
Syariat (Jawa sarengat atau laku raga, sembah raga) adalah tahap laku perjalanan menuju manusia sempurna yang paling rendah, yaitu dengan mengerjakan amalan-amalan badaniah atau lahiriah dari segela hukum agama.
Amalan-amalan itu menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Di samping amalan-amalan seperti itu, dalam kaitan hubungan manusia dengan manusia, orang yang menjalani syariat, di antaranya kepada orang tua, guru, pimpinan, dan raja, ia hormat serta taat. Segala perintahnya dilaksanakaannya. Dalam pergaulan ia bersikap jujur, lemah lembut, sabar, kasih-mengasihi, dan beramal saleh.
Kisah Bima dalam mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi ‘asal dan tujuan hidup manusia’ atau manunggaling kawula Gusti. Dalam kisah ini termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan bagaimana manusia menuju Tuhannya. Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Ia dijadikan dari air. Ia wajib menuntut ilmu. Dalam menuntut ilmu tugas guru hanya memberi petunjuk. Manusia tidak memiliki karena segala yang ada adalah milik-Nya. Ia wajib selalu ingat terhadap Tuhannya, awas dan waspada terhadap segala godaan nafsu yang tidak baik, sebab pada akhirnya manusia akan kembali kepada-Nya.
Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa ‘tidak dapat dikatakan
dengan apa pun’. Kisah perjalanan batin Bima dalam menuju manusia sempurna ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).
Dalam kedua kitab tersebut menggambarkan tentang masih adanya pengaruh keberagamaan dengan agama yang sudah mengental pada nasyarakat, sehingga sulit untuk dilepaskan dan beradaptasi dengan agama yang baru.
Adapun dalam suluk Gatolotjo yakni menceritakan tentang seorang tokoh pengembara yang cerdas dan dengan kecerdasannya itu mampu mengolah pikirannya untuk berkata sesuka hatinya namun dappat dipertanggung jawabkan olehnya bahkan para santri dan para kiai kerepotan untuk berdialog dengan dirinya.



DAFTAR PUSTAKA
Ø  S. Haryanto. 1998. Pratiwimba Adiluhung Sejarah dan Perkembangan Wayang. Jakarta: Djambatan
Ø  Susetya Wewen, Kontroversi Ajaran Kebatinan dari Serat Darmaghandul, Suluk Gatolotjo, Serat Sentini, Sampai Satra Jendra Hayuningrat, (Yugyakarta: PT. Agromedia Pustaka, 2007).
Ø  Zarkasi Effendi, 1977, Nilai Islam dalam Pewayangan, Departemen Agama, Jakarta.
Ø  Simuh, Sufisme Jawa : Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa,Yogyakarta : Bentang Budaya1995.



[1] Haryanto, S. 1998. Pratiwimba Adiluhung Sejarah dan Perkembangan Wayang. Jakarta: Djambatan, hal 56
[2] ibid
[3] Ibid halaman 130-131
[4] Effendi Zarkasi, 1977, Nilai Islam dalam Pewayangan, Departemen Agama, Jakarta, hal. 103-126.
[5] Simuh, 1995, Sufisme Jawa : Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa,Yogyakarta : Bentang Budaya.
[6] Effendi Zarkasi, 1977, Nilai Islam dalam Pewayangan, Departemen Agama, Jakarta, hal. 103-126
[7] Woro Aryandini , 1996. Citra Bima Sepanjang Zaman. Jakarta : Pepadi, hal 13.
[8] Hazim Amir, 1994. Nilai-nilai Etis dalam Pewayangan. Jakarta, Gramedia : 45
[9] Ibid 14
[10] Simuh, 1995, Sufisme Jawa : Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa, Yogyakarta : Bentang Budaya,
hal 145.
[11] Wewen Susetya, Kontroversi Ajaran Kebatinan dari Serat Darmaghandul, Suluk Gatolotjo, Serat Sentini, Sampai Satra Jendra Hayuningrat, (Yugyakarta: PT. Agromedia Pustaka, 2007). Hal. 81.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar