SERAT
DEWA RUCI DAN SULUK GATOTLOCHO
Oleh:
Ade
Nurpriatna, M.Ud.
Pendahuluan
Cerita Dewa Ruci diduga ditulis
kira-kira pada masa peralihan agama, atau pada awal tersebarnya Islam di Tanah
Jawa. Cerita aslinya, yang dianggap Babon, dinisbahkan kepada Mpu Ciwamurti.
Tetapi naskah-naskah kemudian dihubungkan kepada Ajisaka, yang konon menjadi
murid Maulana Ngusman Ngali, seorang penyebar agama Islam. Pada tangan Sunan
Bonang, Serat Dewa Ruci yang asli itu diterjemahkan dari Bahasa Kawi ke dalam
bahasa Jawa Modern. Terjemahan ini tersimpan di perpustakaan pribadi R.Ng.
Ronggowarsito.[1]
Serat Dewa Ruci merupakan karya sastra yang mengandung nilai moral jawa yang
berakulturasi dengan ajaran tasawuf islam. Karya sastra ini diciptakan oleh
pujangga Yasadipura, seorang sastrawan terkemuka di lingkungan kebudayaan jawa
pada abad 18. Dalam kancah pemikiran Jawa, Yasadipura menjadi pelopor utama
dalam melakukan pembaharuan kebudayaan. Salah satu keturunan Yasadipura yang
menjadi pemikir ulung lainnya adalah pujangga Ronggowarsito. Adapun makalah ini
hendak mengkaji nilai-nilai moral Islam yang dikandung dalam Serat Dewaruci karya
Yasadipura. Dalam lintasan kebudayaan Jawa, serat ini menjadi bahan refleksi
bagi para kasepuhan Jawa. Pengkajian terhadap Serat Dewaruci ini perlu
dilakukan guna mengetahui seberapa jauh pengaruh nilai-nilai rohaniah itu bagi
kehidupan rohani masyarakat Jawa.
Intisari Serat Dewaruci yaitu
memuat cerita tentang Bima yang mawas diri dengan tujuan menyucikan dirinya,
agar dapat menyatu dengan Khaliknya atau pamoring kawula Gusti. Serat
tersebut merupakan karya sastra Jawa klasik yang mengajarkan tasawuf Islam
yaitu agar manusia mencapai taraf
paripurna atau insan kamil.[2]
Pengembaraan Bima dalam mencari air suci hingga masuk ke dalam gua garba
Dewaruci. Wejangan Dewaruci yang disampaikan kepada Bima dalam gua garba dapat
ditafsirkan sebagai wejangan Bima klasik yang sudah pada taraf superego kepada
janin yang masih taraf awal yang berlangsung dalam gua garba ibu Kunthi. Bima
pertapa yang sudah pada ego mendengarkan wejang-an tersebut dengan penuh
perhatian.
Wejangan Dewaruci berinti lima
aspek yakni : pancamaya, makrokosmos dan mikrokosmos, pramana, ilmu
palepasan, hidup dalam mati dan mati dalam hidup. Pancamaya (lima
bayangan) dapat dinterpretasikan sebagai bayangan yang diperoleh lantaran
pancaindera dan disimpan dalam ketidaksadaran hati. Pada saat panca indera
menanggapi segala sesuatu dari alam sekelilingnya, ia didorong oleh nafsu.
Makrokosmos adalah alam semesta seisinya yang dapat ditanggapi oleh pancaindera
manusia, kemudian di-simpan dalam ketidaksadaran sebagai pancamaya. Dengan
demikian, isi alam semesta terdapat pada diri manusia, sekalipun hanya sebagai
bayangan maya, bersifat semu.
Pramana menunjukkan
pengertian akan denyut jantung. Jadi selama jantung masih berdenyut, selama itu
raga manusia masih hidup. Sedang yang menghidupi Bra-mana adalah suksma sejati
yang dapat merasakan adanya sifat-sifat Ketuhanan Yang Maha Esa pada raga dan
jiwa manusia. Bilamana raga manusia mati, pramana pun ikut mati. Akan tetapi,
suksma sejati hidup terus dalam alam yang tidak terbatas waktunya, tanpa
winates.
Ilmu pelepasan (ilmu
menghadapi kematian) yang diwejangkan oleh Dewaruci kepada Bima mencakup
tentang kematian dan pegangan hidup. Dijelaskan bahwa hidup tiada yang
menghidupi karena sudah ada sejak makhluk berupa janin. Hidup tidak bersela
waktu artinya hidup itu abadi (langgeng). Dengan demikian yang mengalami
kematian adalah raga, dan raga yang telah mati kembali ke tanah sesuai dengan
pernyataan dari debu. Sedangkan jiwa dan suksma yang menghidupi raga, selama
hayat dikandung badan tidak mengalami kematian, tetapi kembali kepada asalnya,
yaitu Yang Maha Pencipta semesta alam (Sang Akartining Bawana atau Kang
Murbeng Gesang).
Adapun kendala mati yang sempurna
ialah keduniaan. Oleh karena itu, Dewaruci mewejangkan agar tidak terikat
kepada sesuatu yang serba duniawi. Mengenai pandangan hidup yang nyata,
Dewaruci mengatakan bahwa Bima jangan hanya menguasai keperluan hidup saja,
tetapi dia harus juga menguasai keperluan ajal/mati, sakaratul maut. Wejangan
Dewaruci mengenai hidup adalah mati dan mati adalah hidup (mati sajroning
ngaurip) menekankan bahwa agar selama orang masih hidup, nafsu yang
mendorong seseorang untuk melakukan tindakan jahat atau jelek, hendaknya
dipadamkan sehingga yang ditinggal hanya nafsu yang mendorong perbuatan baik.
Dengan jalan demikian manusia dapat menyatupadukan diri dengan Khaliknya.
Tokoh Bima dalam cerita Dewaruci
itu menggambarkan satria perkasa dalam kekuatan fisik yang luar biasa dan
sebagai seorang wiku juga dengan kearifan batin. Selain itu, Serat Dewaruci mengandung
nilai mistik tinggi dan mempunyai dampak yang selalu meningkatkan kehidupan
rohani orang Jawa. Bima mengiaskan seorang ahli mistik Jawa. Pengetahuan mistik
bagi orang Jawa memberikan kesadaran bahwa manusia dan alam semesta merupakan
kesatuan dengan hakikat ilahi (one with devine essence) dan dalam
kesadaran mistik (mistic consciousness) tidak ada sesuatu pun kecuali
Tuhan. Kesatuan mistik (mistic union) ini berarti bahwa hanya Tuhanlah
yang mengisi kesadaran mistik. Di Jawa kesatuan Tuhan, manusia dan alam disebut
pamoring kawula Gusti.[3]
A.
Filosofi
Dewa Ruci
Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan
hakiki dari kejawe adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup
sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan
Gusti (pencipta) yang dalam bahasa jawa lebih populer dengan manunggaling kawula gusti atau
pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.
Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang
yang percaya kepada sang pencipta, yang diyakini memiliki moral yang baik,
jujur dan bersih. Beberapa laku harus dipraktekan dengan kesadaran dan
ketetapan hati yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati
dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan
untuk mamyu hayuning bawono. Kejawen
merupakan aset dari orang jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari
makna dan hakikat hidup yang mengandung nilai-nilai spiritual yang tinggi.
Tindakan tersebut terbagi dalam tiga bagian. Yaitu tindakan simbolis dalam realigi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan
simbolis dalam realigi adalah contoh kebiasaan orang jawa yang percaya bahwa
Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus
disimbolkan agar dapat diakui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan
dengan gusti ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkan Maha Kuaos dan sebagainya.
Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara
kematian yaitu mendoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empat
puluh hari, serarus hari, satu tahun, dua tahun sampai seribu harinya setelah
seseorang meninggal (tahlilan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan
dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit, wayang
golek, warna yang ditandakan pada sebuah wayang merupakan penggambaran karakter
dari masing-masing tokoh dalam wayang.[4]
Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh
perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa
dalam kehidupannya. Maka orang mulai berpikir bagaimana bisa membuktikan hal
gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa
mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercaan itu kehilangan unsur
kesakralannya karena dijadikan sebagai objek eksploitasi dan penelitian belaka.
Kebiasaan orang jawa yanng percaya bahwa segala
sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur
alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang keempatnya dipercaya akan
memperkuat ruamah baikmsecara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun
dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, kebudayaan soko guru itu
tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat
diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya
jawa. Tapi pada dasarnya simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan
manusia, melainkan manusialah yang akan tergantung pada simbolisme. Dan sampai
kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya cakra
panggilan. Orang jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari
kehidupannya.
Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang jawa
memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara kawula dan
Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.[5] Dalam
bentuk kakawin (tembang) oleh pujangga Surakarta, Yosodipuro berjudul : Serat
Dewaruci Kidung Iyang disampaikan dalam bentuk cerita. Intisari cerita
tersebut yaitu : bahwa pihak kaum Kurawa dengan negeri Amarta, ingin
menjerumuskan pihak pandawa yangmana negeri para Pandawa dikenal dalam dunia
pewayangan dengan negeri Astina. Pada dasarnya antara Pandawa dan Kurawa adalah
bersaudara, namun dalam cerita tersebut para kurawa selalu ingin menjerumuskan
pandawa pada kesengsaraan, dan yang ditugaskan untuk itu adalah guru mereka
Durna yang lebih populer dengan sebutan Dorna dalam pewayangan golek Jawa
Barat.
Kisah
Bima dapat dipakai untuk melukiskan seseorang yang dapat dilakukan secara lahir
(dzikir jahri) dan juga dapat dilakukan secara batin (dzikir sirri). Penghayatan
dzikir sirri senada dengan penghayatan semedi. Ringkasan cerita Serat
Dewaruci per episode dengan diberi komentar tafsirnya. Secara ringkas
analisisnya dapat diungkap sebagai berikut:
1.
Bima berguru pada Durno
Artinya orang yang ingin mendalami
ilmu agama, dia harus berguru kepada orang yang berilmu. Meskipun kadang-kadang
ada orang berilmu yang bertabiat kurang terpuji. Dalam mencari ilmu seseorang
harus selalu berbaik sangka (khusnudz dzan) terhadap guru, sebagai-mana
yang telah dicontohkan oleh Bima terhadap gurunya, Resi Drona.
2.
Drona menganjurkan Bima
untuk membongkar gunung Reksamuka.
artinya orang yang mendalami ilmu
tarikat harus melakukan hal-hal yang berat, seberat membongkar sebuah gunung.
Misalnya dia harus menghilangkan sifat keduniaannya.
3.
Bima bertemu dua
raksasa besar, Rukmuka dan Rukmakala sewaktu Bima membongkar gunung Reksamuka.
Kedua Raksasa itu berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh Bima.
Artinya; orang yang berusaha
mensucikan diri harus mampu mengurangi semua godaan duniawi. Sedang Rukmuka
melambangkan nafsu pancaindera yang selalu membawa manusia menuju kesesatan.
Sedang Rukmakala melambangkan akal pikiran yang sering lepas kendali (kebablasen)
sampai membahayakan bagi keselamatannya sendiri. Kedua rintangan besar itu
mampu diatasi oleh Bima meskipun dengan perjuangan berat.
4.
Sesudah dibunuh oleh
Bima, kedua raksasa itu berubah menjadi dua dewa. Karena keduanya telah
ditolong dapat kembali berwujud dewa, Bima diberi 8
anugerah
Sabuk Cindhe Wilis dengan Bara Kembar dan dapat dipakai di paha kanan kiri.
Artinya sudah menjadi kebiasaaan
bila seseorang yang hendak menyucikan diri itu harus mau menutup mata dan
telinga terhadap ejekan orang lain. Lama-kelamaan ejekan yang menjadi beban itu
akan lenyap juga. Mereka yang mengejek akhirnya mengakui kebenarannya. Sedang
hadiah (Sabuk Bara dengan Cindhe Kembar) melukiskan orang yang berpetualang mencari
ilmu dengan tekad kuat laksana ikat pinggang (cindhe). Bara di kanan
menun-jukkan perilaku yang harus melepaskan diri dari sifat yang memegang teguh
ajaran guru.
5.
Dua dewa menyuruh Bima
kembali kepada Resi Drona untuk menanyakan tempat sesungguhnya Tirta Prawita
Sari, sebab di Gunung Reksamuka tidak ada.
Artinya bila mentaati perintah
guru, si murid akan semakin banyak pengalaman yang sebelumnya tidak pernah
diketahui. Benar atau tidak, perintah guru kalau dilaksanakan akan tetap
bermanfaat.
6.
Bima menghadap gurunya,
dan Drona memberi wejangan tentang keharusan berbakti kepada Dzat yang harus
disembah. Kemudian Bima disuruh mencari Tirta Prawita Sari di dasar
lautan.
Artinya seseorang yang sudah
mendapat ilmu tarikat. Semakin kuat orang menuju hakikat agama, maka hal-hal
yang menjadi penghambatnya semakin besar. Adapun tempat Tirta Prawita Sari di
dasar laut memberi makna bahwa untuk sampai pada tingkat makrifatullah memang
sukar, jauh dan dalam. Maka dia harus terjun dan menyelam dalam lautan. Ini
berarti bahwa orang itu harus menyucikan sifat-sifat Allah SWT sebagaimana
tersurat dalam Asmaul Husna.
7. Mendengar niat Bima
pergi ke lautan, ibunya dan para Pendawa menangis dan berusaha mencegahnya.
Tetapi tekad Bima tidak bisa dikendurkan.
Artinya seseorang yang sudah
terpikat dengan makrifatullah, dia mesti mau melepaskan diri dari segala hal
yang paling dicintainya.
8. Dalam perjalanan Bima
bertemu dengan empat saudaranya tunggal Bayu. Mereka hendak mencegah kenekadan
Bima, tetapi dia lari meninggalkan mereka. Keempatnya tetap membantu Bima
dengan cara me-nyatukan diri dengan berwujud Gajah Situbanda.
Artinya seseorang yang
hendak mencapai suatu tujuan mulia tetap mendapat godaan dari keempat nafsu (amarah,
lawamah, sufiah dan muthmainah) yang ada pada dirinya. Bila
berhasil, dia harus mampu menga-tasinya.
9.
Bima heran karena di
lautan dia tetap terapung. Baru setelah Gajah Situbanda yang menjaganya
melepas, Bima tenggelam dalam arus samudera.
Artinya seseorang yang telah
berhasil melepaskan nafsunya, orang tersebut akan terbuka pintu
makri-fatullahnya.
10. Ketika
Bima hanyut, tiba-tiba ada ular besar yang menggigit tubuh dan pahanya. Dengan
cekatan naga itu ditusuk dengan Kuku Pancanaka dan mati seketika. Anehnya Bima
ikut mati juga.
Artinya naga menurut ilmu hakikat menggambarkan
utusan Tuhan yang berwujud malaikat. Malaikat menolong orang yang tidak tahu
tentang nasibnya, agar tidak terlalu sama menderita. Peristiwa ini mirip dengan
Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhamad Saw
11. Bima
tidak menyadari bahwa dirinya sudah berupa suksma. Dia duduk bersimpuh ketika
berhadapan dengan Dewaruci. Dia mengatakan bahwa dirinya hendak mencari Tirta
Prawita Sari. Kemudian Bima disuruh masuk ke dalam tubuh Dewaruci.
Artinya orang yang mencari
tingkatan makrifat kalimat syahadat yang mulamula. Untuk mencapai anugerah
Tuhan harus dengan jalan sesuai dengan lahir batinnya.
12. Karena
Dewaruci kecil tubuhnya. Bima bingung untuk masuk. Lalu diberi petunjuk untuk
masuk lewat telinga. Dalam tubuh Dewaruci dia linglung tidak tahu arah kiblat.
Biar tenang, dia disuruh semedi sebentar.
Artinya meskipun berwujud ruh, dia
tetap punya pe-rasaan dan akal budi. Sudah wajar orang yang berada di alam baru
itu terkejut seperti bayi lahir. Dengan dzikir kepada Allah SWT jiwa akan
tenang damai.
13. Bima
menjawab pertanyaan Dewaruci bahwa dirinya merasa berada di dalam alam agung
lengkap dengan segala isinya. Setelah itu disuruh semedi dan dia melihat lima
macam cahaya yang saling bersaing.
Artinya orang yang sudah pada
tingkat hakikat agama, maka jiwanya telah makrifat kepada hakikat alam kabir
(besar) dan saghir (kecil). Sedang kelima cahaya itu melambangkan
panca indera yang cenderung ingin memuaskan hawa nafsu.
14. Bima
disuruh semedi lagi dan dia melihat wujud gana berbentuk emas. Dia merasa di
alam indah permai, mulia dan wangi baunya, dia berniat tidak pulang ke dunia.
Artinya menggambarkan ruh yang
telah berada di surga maya (surga nafi isbat). Meskipun sudah mera-sa puas dan
ingin menetap di sana, tetapi niat itu tidak mungkin karena tugasnya di dunia
belum sele-sai. Kisah ini juga sangat mirip dengan kisah Isra’ Mi’raj Nabi
Muhammad saw.[6]
Dari intisari cerita mengenai dewaruci, jelas sekali ada kesesuaian dengan ajaran
tasawuf atau faham tasawuf dalam Islam. Seseorang untuk mencapai tingkat makrifatullah maka harus melalui jalan
seperti apa yang telah diceritakan dalam serat dewa ruci.
B.
Korelasi Nilai Serat Dewaruci dengan Islam
Pada dasarnya ajaran dalam Agama
Islam tidak mengenal Trimurti dan sistem dewa-dewa yang pantheistis. Maka para
Wali Sanga kemudian mengubah suatu sistem hirarki kedewaan yang menempat-kan
dewa – dewa itu sebagai pelaksana perintah Tuhan saja dan bukan sebagai Tuhan.
Juga disusunlah cerita-cerita baru yang bernafaskan keislaman seperti Dewaruci,
Jimat alimasada dan Dewaruci. Dengan
jalan ini, maka Islam menyebar di kawasan Nusantara berlangsung secara halus
dan damai, tanpa ada keguncangan dan keterkejutan.[7]
Pada zaman Kerajaan Surakarta awal,
Serat Dewaruci amat digemari. Hal ini terlihat dengan banyaknya
tanggapan atau resepsi dari masyarakat, yang kemudian mengolahnya kembali,
ditransformasikan menjadi berbagai macam karya sastra, dengan isi ajaran Islam
yang lebih meningkat. Salah satunya adalah Dewaruci yang digubah oleh
Ranggawarsita.[8]
Dewaruci mengisahkan perjalanan Bima mencari tirta prawita sari ke
Gunung Raksamuka dikatakan telah menjalani makrifat. Membunuh raksasa
Rukmuka dan Rukmakala diibaratkan membuka Bait-al-Makmur dan Bait-alMukadas.
Membunuh Naga Nemburnawa dikatakan
mematikan
perasaan, pertemuan dengan Sang Dewaruci diibaratkan bertemu dengan dzat
sejati, gua garba Dewaruci diibaratkan alam insan kamil atau Manusia
Sempurna.[9]
Serat Lampahan Bimarodra yang
digubah oleh KRT Wreksadiningrat pada tahun 1923 itu, dikatakan Bima sudah
menjadi pendeta yang mengajarkan Agama Islam. la mengajarkan syariat,
tarikat, hakikat, dan makrifat. Menurut kitab ini, syariat adalah
‘laku badan’, tarikat sebagai ‘laku hati’, hakikat artinya mengetahui “adanya
Tuhan” dan “makrifat” artinya
mengetahui ‘dua hal yang menyatu’ (roroning atunggal). Warna cawat Bima poleng
bintulu itu telah diberi makna. Hitam dikatakan lambang nafsu lawamah, yaitu
angkara murka. Merah melambangkan nafsu amarah menjuruskan kepada
kemarahan. Kuning melambangkan nafsu sufiah yaitu keinginan jasmaniah.
Putih melambangkan nafsu mutmainah, yaitu rasa terima kasih atas apa
yang diberikan oleh Tuhan.
Serat Bima Bungkus, yang
digubah oleh Can Cu An pada tahun 1936 merupakan gabungan dari cerita Bima
Bungkus zaman Majapahit yang pada awal abad ke-20 mengalami transformasi
menjadi Lampahan Bima Bungkus oleh KGPAA Mangkunagara VII. Dewaruci
Wirid gubahan RNg Ranggawarsita membicarakan lahirnya insan kamil. Ajaran
Dewaruci tentang pamoring kawula Gusti dalam Serat Dewaruci gubahan
Kyai Yasadipura I, ditambah dengan ajaran Martabat Tujuh, yang
menerangkan tingkat-tingkat proses terbentuknya manusia, dari martabat ahadiyah
sehingga mencapai tingkat insan kamil yaitu manusia sempurna. Juga
diceritakan bagaimana calon manusia sempurna tadi mendapat sembilan macam roh,
yaitu: roh ilapi, roh rabani, roh rohani,roh nurani, roh kudus, roh rahmani,
roh jasmani, roh nabati dan roh hewani.
Kepustakaan Islam Kejawen, pengaruh
ajaran tasawuf dan tuntutan budi pekerti luhur terasa sangat menonjol. Demikian
juga istilah-istilah Arab yang berkaitan dengan Agama Islam dan tasawuf,
merupakan bagian kepustakaan Jawa. Islam telah lama menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, seseorang akan sulit memahami
kepustakaan Jawa dengan baik, tanpa pengenalan ajaran Islam dan pengetahuan
bahasa Arab yang cukup. Dalam gubahan Serat Dewaruci karya Tan Khoen
Swie berbentuk sekar macapat misalnya, mengandung beberapa istilah Arab
seperti: wujud, dzat, sifat, makrifat, nikmat, dan manfaat. Tanpa
disadari, baik Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia banyak me-nyerap unsurunsur
Bahasa Arab.
Berkaitan
dengan dzat Tuhan yang diibaratkan seba-gai samudra, manusia adalah satu titik
air di dalamnya. Lukisan semacam itu sama halnya dengan ajaran Serat
Dewaruci, yaitu Bima masuk ke tubuh Dewaruci melalui telinga kiri.[10]
Konsep manunggaling kawula Gusti
atau kesatuan manusia dengan Tuhan (wahdatul wujud) yang
di-pergunakan untuk menggambarkan, dalam kepustakaan Islam kejawen, adalah curiga
manjing warangka, warangka manjing curiga. Yakni manusia masuk dalam diri
Tuhan, laksana Arya Sena masuk dalam tubuh Dewaruci. Atau sebaliknya, warangka
manjing curiga. Yakni Tuhan masuk (nitis) dalam diri manusia, seperti
halnya dewa Wisnu nitis pada diri Kresna. Dan paham nitis, yakni masuknya roh
dewa dalam diri manusia, atau roh manusia dalam binatang masih kelihatan dalam Serat
Wirid Hidayat Jati. Roh manusia yang sesat tidak dapat kembali ke dalam
singgasana Tuhan, dikatakan akan nitis dalam alam brakasakan (jin),
bangsa burung, binatang dan air.
Pembahasan tentang penghayatan
ghaib dilukiskan sebagai arus balik dari kerangka pemikiran tajalli dalam
ajaran martabat tujuh (ahadiyat, wahdat, wahidiyat, alam arwah, alam misal,
alam ajzan, insan kamil). Dalam Serat Wirid Hidayat Jati penghayatan
ghaib diterangkan sebagai wangsit Sunan Kalijaga.
Penghayatan ghaib tujuh martabat
diambil dari Arya Sena sewaktu dalam tubuh dewaruci. Penghayatan Arya Sena
dalam Serat Wirid Hidayat Jati disusun tujuh martabat:
a) Martabat
Pertama
Yakni
adanya awang-uwung yang tidak terbatas dan tidak berkiblat ketika Arya Sena
masuk ke dalam tubuh Dewaruci melalui telinga kirinya.
b) Martabat
kedua
Adanya
empat macam cahaya : hitam, merah, kuning, dan putih. Dalam Serat Dewaruci ketiga
cahaya pertama itu lambang nafsu tidak baik. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati,
cahaya hitam dihubungkan dengan alam penitisan, cahaya merah dengan alam
bangsa brakasaan, cahaya kuning dengan alam bangsa burung dan cahaya putih
dengan alam penasaran tempat binatang air.
c) Martabat
Ketiga
Adanya
lima macam cahaya : hitam, merah, kuning, putih dan hijau. Dalam Serat
Dewaruci dikenal dengan pancamaya (lima macam semu) lima cahaya itu dalam Serat
Wirid Hidayat Jati melambangkan lima indra.
d) Martabat
Ketiga
Adanya
lima macam cahaya : hitam, merah, kuning, putih dan hijau. Dalam Serat
Dewaruci dikenal dengan pancamaya (lima macam semu) lima cahaya itu dalam Serat
Wirid Hidayat Jati melambangkan lima indra.
e) Martabat
keempat
Serat
Dewaruci ada nyala delapan sinar. Dalam Serat
Wirid Hidayat Jati ada perwujudan warna pramana atau alam penasaran, yakni
alam bangsa jin hitam, jin merah, jin hijau, jin kuning, jin putih, jin biru,
jin ungu, dan jin dadu.
f) Martabat
Kelima
Termasuk
alam uluhiyah (keilahian) yang ada tawon gumana (lebah sedang menggema)
yang berada dalam mega fana. Dalam Serat Dewaruci, tawon gumana disebut
juga golek gading sebagai perwujudan pramana.
g) Martabat
Keenam
Martabat
ini ada perwujudannya golek gading yang berada dalam magam baqa dan
termasuk tempat penasaran.
h) Martabat
ketujuh
Terdapat
atma yang merupakan tajalli Tuhan. Atma disebut hayyu atau hidup.
Pada martabat ini tercapailah penghayatan manunggal dengan Tuhan, sehingga
tidak dapat dibedakan lagi antara atma dengan Tuhan.
Ajaran ini disebut juga ngelmu
kasampurnan, yang membuat hidup manusia menjadi sempurna. Penghayatan ini
kelihatan merupakan pengaruh dari tasawuf. Penganut tasawuf umumnya memandang
orang yang berhasil mendapatkan makrifat dengan Tuhan sebagai insan kamil (manusia
sempurna) seperti wali Allah SWT (kekasih Allah SWT) yang memiliki kemampuan
luar biasa yang disebut keramat. Pada kepustakaan Islam kejawen ilmu ketuhanan disebut
ngelmu sangkan paran. Mengenal Tuhan berarti mengenal asal kejadian
manusia,
yang sekaligus tempat kembalinya di kemudian hari. Hal ini merupakan penafsiran
kejawen terhadap ajaran Islam “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. Inti
ajaran Dewaruci misalnya adalah pengertian tentang Tuhan. Pengertian ini disebut
sebagai air suci yang dapat enentramkan hidup Arya Bima. Oleh karena itu, ilmu
tentang Tuhan sebagai sangkan araning
dumadi, dalam kejawen dinamakan ngelmu kasampurnan.
Masyarakat Jawa saat itu merasa
bahwa ajaran yang terdapat dalam Serat Dewaruci itu sesuai dengan
falsafah hidup mereka, maka Serat Dewaruci itu mendapat tanggapan yang
besar. Ajaran tasawuf banyak dituangkan dalam kitabkitab suluk dengan formasi
dialog antar tokohnya sebagaimana guru kebatinan sedang memberi wejangan kepada
murid-muridnya. Nilai-nilai moral sufistik dalam Serat Bimapaksa pun disampaikan
dengan cara dialog antara Begawan Bimapaksa dengan murid-muridnya di Pertapaan
Argakelasa.
Al Qur’an menyebut bahwa manusia
adalah ciptaan Tuhan yang terbaik dan mulia, lebih mulia dari makhluk lain atau
ciptaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia dibandingkan dengan makh-luk
lain memiliki keistimewaan yang membawanya kepada kedudukan istimewa pula,
yakni sebagai khalifah. Dalam kedudukannya ini manusia diberi wewenang untuk
membangun dan secara bersama-sama.
C.
Suluk Gatotlocho
Dikisahkan dalam bagian pertama dalam
suluk ini, sang tokoh utama yakni Gatoloco betemu dengan para ahli agama yaitu
guru Abdul Manaf dan Ahmad ‘Arif yang disertai enam santrinya terjadilah dialog
sebagai beikut:
“Santri berkata “apakah anda
makan babi? Asal mau anda telan,tidak takut akan dosa”; Gatoloco
menjawab,”memang benar tidak salah seperti yang anda katakan bahkan sekalipun
daging anjing, apabila kita lihat baik dan bukan curian (saya mau juga)”.[11]
Dari percakapan diatas dapat dapat diambil kesimpulan yaitu topik
permasalahan diatas ialah mengenai halal haram suatu makanan, dalam hal ini
ialah makan hewan babi.Santri menanyakan kepada Gatoloco apakah ia (Gatoloco)
makan babi ,Gatoloco menjawab dengan jawaban seenaknya sendiri bahwa jawab
Gatoloco babi itu baik dimakan asal bukan dari hasil curian.
Dalam aturan Agama Islam sudah dijelaskan bahwa hukum makan babi ialah
haram.Keharaman babi sudah dijelaskan dalam kitab Al-Quran.
“Anjing itu misalnya, aku pelihara sejak kecil,
siapakah yang mengadukan aku? Daging anjing rasanya lebih halal ketimbang anjing
kecil (anak kambing), walau daging kambing, kalau toh itu hasil curian,
bukankah itu lebih haram ketimbang daging anjing? Babi ataupun celeng sekalipun
berasal dari membeli pasti lebih suci, lebih halal dimakan?”[6]
Mendengar jawaban Gatoloco yang asal ngomong itu, para santri menjadi
jengkel, para santri itu menjawab omongan Gatoloco dengan nada emosi, yakni
”SINOM” sebagai berikut:
“’Ketiga orang santri ketika mendengar (jawabannya) lalu berbareng
mencaci ”silit babi” ; Ki Gatoloco berkata pula : “apakah silit babi dibawa
sang empunya? Lagi pula tak menyentuh tubuhku”! Santri tiga pun menjawab
lagi,”biyangmu silit babi”. Gatoloco menyahut pula, ”itu aneh benar”.
Dalam suluk Gatoloco diperlihatkan tentang ketidaksanggupan para santri
berdebat dengan Gatoloco. Para santri ini marah karena jawaban Gatoloco yang
asal ngomong , para santri itu kemudian menyerahkan permasalahan mereka (tentang
Gatoloco) kepada guru mereka.
Dalam dialok selanjutnya dengan para santri “Gatoloco pelan menyahut, mengapa
saya ini kurus? Semata-mata menurut kehendak baginda Rasul dan Nabi yang saya
ikuti, dimana saya harus pergi ke tempat madat (Jawa,ngepakan) untuk membeli
candu dan klelet (bekas- bekas candu yang melekat dialat minum madat ), serta
menghisapnya disana candu itu dibakar dengan api, sebab Allah lah mengajarkan
seperti itu.
Dialog diatas sebenarnya menggambarkan sifat-sifat setan yang menggoda
kaum beriman. Sesungguhnya Allah telah memperingatkan manusia akan permusuhan
setan dan membberitahukan kepada kita bahwa setan adalah musuh manusia. Allah
memperingatkan kepada manusia akan perangkap-perangkap dan tipu muslihat setan.
Selanjutnya Gatoloco berkata: “Jika aku tak menuruti perintahnya,
niscaya hukumannya sangat berat, begitu hebat sakitnya, sehingga aku tak bisa
tidur, seluruh tubuhku seperti terasa dicabut-cabut nyawaku”.
Santri tiga pun berkata : “Engkau ini tidak sopan! Masa dikatakan Rasul
di Ngepakan? Padahal Rasul itu dihormati seluruh manusia dibumi, dan berada
dikota Mekah”.
Dari percakapan diatas jelas bahwa jawaban Gatoloco memancing para
santri marah itulah salah satu sifat setan yaitu memancing manusia marah. Dalam
aturan Agama Islam dikatakan bahwa manusia itu memiliki sifat marah tetapi
sifat ini harus dikendalikan, karena apabila tidak akan sangat berbahaya.
Didalam sebuah Hadist dikatakan bahwa Rosulullah bersabda: “Orang kuat ialah
bukan orang yang pandai bergulat, tapi orang kuat ialah orang yang mampu
mengendalikan marahnya jika ia marah”.
Berikut ini adalah gambaran seorang santri yang kebingungan menerima
pertanyaan Gatoloco yang asal ngamong:
“Kamu semua adalah santri bingungan”, kata Gatoloco, Anda keliru, Rasul
yang ada di Mekah kau sembah, bukankah ia sudah wafat? Ia tempatnya di tanah
Arab; ia tak ada lagi, sedang anda selalu menyembahnya tiap hari jungkir balik,
apakah bisa sampai padanya?”
Omongan gatoloco diatas menggambarkan tentang kaum muslimin sekarang
dalam ibadah shalatnya hanya jungkir balik saja,kata Gatoloco Sholat itu harus
tawajuh atau harus sampai ke hati, tidak hanya jungkir balik saja.
“Sembahyang demikian tak ada artinya, itu berarti sia-sia terhadap
badanmu sendiri; anda mesti menyembah Rasulmu sendiri dengan badanmu; Menyembah
Rasul dengan cara demikian tak berguna, tiwas berteriak-teriak tidak bisa
diterima Allah, karena membuat Tuhan tak bisa tidur karena mendengar suaramu
itu”.
Omongan Gatoloco diatas sebenarnya mengkritik kepada kaum muslimin yang
shalatnya tidak khusyu (konsentrasi), menurut Gatoloco shalat mereka hanya
jungkir- balik saja dan tidak ada artinya bagi Allah. Oleh karena itu sebaiknya
janganlah kita memfonis bahwa karya sastra ini buruk dan tidak boleh dibaca
karena sesungguhnya kaerya sastra ini baik karena terdapat banyak pelajaran
yang dapat kita ambil hikmahnya.
D. Hidup dan Wayang
Guru para santri itu antara lain bernma Ngabdul Jalal
dan Kasan Besari. Dalam Tembang Asmaradahana dinyatakan bahwa Ngabdul Jalal
bertanya kepada Gatoloco dengan pelan-pelan Dia bertanya mengenai kitab apa
pegangan Gatoloco?, Gatoloco menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan
jawaban yang secara harfiah akan sulit untuk dipahami, karena jawaban Gatoloco
ialah dengan menggunakan bahasa yang harus dipahami dengan atau dari segi
hakekat.
Kemudian guru para santri yang satunya lagi, yaitu
Kasan Basri bertanya kepada Gatoloco dengan pertanyaan: Apakah Gatoloco
sembahyang (shalat)?, mendengar pertanyaan seperti itu Gatoloco menjawabnya
dengan jawaban yang lagi-lagi dengan bahasa “jarwodosok” atau bahasa kias
sehingga harus dipahami dari segi hakekat. Gatoloco menjawabnya dengan jawaban
bahwa ia (Gatoloco) sembahyangnya itu terus menerus dan tak berubah atau tetap.
Jawaban Gatoloco tersebut sebenarya mengandung sindiran berdasarkan Al-Qur’an
bahwa sembahyang itu sebenarnya tidak boleh gothang (sebentar-sholat sebentar
enggan). Ini dilarang dalam Al-qur’an, ancamannya neraka Wel. Jawaban
diplomatis tersebut sebenarnya sindiran terhadap kaum ahli syare’at,
sembahyangnya tidak sampai di hati seolah imannya hanya di tenggorokannya.
Kemudian selanjutnya Gatoloco berkata lagi yaitu
dengan kata-kata yang penuh dengan bahasa jarwodosok sehingga perlu dipahami
dari segi hakekat. Adapun mengenai astilah hakekat itu sendiri dikenal dalam
golongan sufi atau ahli tasyawuf. Golongan sufi ini membagi manusia dalam empat
golongan yakni syare’at, hakekat, tarekat, dan makrifat.
Nur Muhammad menjadi bagian tanya jawab Gatoloco dengan Kasan Besari
berikutnya, mereka saling berdebat. Pendapat Gatoloco mengenai Nur Muhammad
yatiu sebagai berikut: bahwa Allah merupakan pencipta alam semesta beserta
isinya yang kemudian menciptakan makhluk-makhlukNya seperti malaikat, jin,
manusia, tumbuhan dan lain-lain. Dan menurut Gatoloco summber penciptaan Allah
itu semua adalah Nur Muhammad.
Namun pendapat Gatoloco ini ditentang Kasan Besari, ia menyatakan bahwa
pendapat Gatoloco tidak masuk akal, Kasan Besari brekata: “Sebelum Rasulullah
dan sahabat lahir di dunia, kan sudah ada bintang, bulan, dan matahari; jadi
kalaubegitu bulan, matahari dan lain-lain itu mendahului Nabi Muhammad. Jadi
mengapa dikatakan Nur Muhammad mendahului semua itu.
Tetapi secar global dapat disimpulkan bahwa yang disebut Nur Muhammad
itu sebenarnnya Nur atau cahaya yang dimiliki Muhammad SAW yang kini telah
dijadikan manusia rasul Allah.
E.
Simpulan
Syariat
(Jawa sarengat atau laku raga, sembah raga) adalah tahap laku perjalanan menuju
manusia sempurna yang paling rendah, yaitu dengan mengerjakan amalan-amalan
badaniah atau lahiriah dari segela hukum agama.
Amalan-amalan
itu menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia,
dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Di samping
amalan-amalan seperti itu, dalam kaitan hubungan manusia dengan manusia, orang
yang menjalani syariat, di antaranya kepada orang tua, guru, pimpinan, dan
raja, ia hormat serta taat. Segala perintahnya dilaksanakaannya. Dalam
pergaulan ia bersikap jujur, lemah lembut, sabar, kasih-mengasihi, dan beramal
saleh.
Kisah
Bima dalam mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis
melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan
identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi ‘asal dan tujuan hidup
manusia’ atau manunggaling kawula Gusti. Dalam kisah ini termuat amanat ajaran
konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan bagaimana manusia menuju Tuhannya.
Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali
kepada-Nya. Ia dijadikan dari air. Ia wajib menuntut ilmu. Dalam menuntut ilmu
tugas guru hanya memberi petunjuk. Manusia tidak memiliki karena segala yang ada
adalah milik-Nya. Ia wajib selalu ingat terhadap Tuhannya, awas dan waspada
terhadap segala godaan nafsu yang tidak baik, sebab pada akhirnya manusia akan
kembali kepada-Nya.
Konsepsi
Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan,
Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa ‘tidak dapat dikatakan
dengan apa pun’. Kisah perjalanan batin Bima
dalam menuju manusia sempurna ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu:
syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah
jiwa, dan sembah rasa).
Dalam kedua kitab tersebut
menggambarkan tentang masih adanya pengaruh keberagamaan dengan agama yang
sudah mengental pada nasyarakat, sehingga sulit untuk dilepaskan dan
beradaptasi dengan agama yang baru.
Adapun dalam suluk Gatolotjo yakni
menceritakan tentang seorang tokoh pengembara yang cerdas dan dengan
kecerdasannya itu mampu mengolah pikirannya untuk berkata sesuka hatinya namun
dappat dipertanggung jawabkan olehnya bahkan para santri dan para kiai
kerepotan untuk berdialog dengan dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ø S.
Haryanto. 1998. Pratiwimba Adiluhung Sejarah dan Perkembangan Wayang.
Jakarta: Djambatan
Ø Susetya
Wewen, Kontroversi Ajaran Kebatinan dari Serat Darmaghandul, Suluk
Gatolotjo, Serat Sentini, Sampai Satra Jendra Hayuningrat, (Yugyakarta: PT.
Agromedia Pustaka, 2007).
Ø Zarkasi
Effendi, 1977, Nilai Islam dalam Pewayangan, Departemen Agama, Jakarta.
Ø Simuh,
Sufisme Jawa : Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa,Yogyakarta :
Bentang Budaya1995.
[1] Haryanto, S.
1998. Pratiwimba Adiluhung Sejarah dan Perkembangan Wayang. Jakarta:
Djambatan, hal 56
[2] ibid
[3] Ibid halaman 130-131
[5] Simuh, 1995, Sufisme
Jawa : Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa,Yogyakarta : Bentang
Budaya.
[9] Ibid 14
[10] Simuh, 1995, Sufisme
Jawa : Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa, Yogyakarta : Bentang
Budaya,
hal
145.
[11] Wewen Susetya, Kontroversi Ajaran Kebatinan dari Serat Darmaghandul,
Suluk Gatolotjo, Serat Sentini, Sampai Satra Jendra Hayuningrat,
(Yugyakarta: PT. Agromedia Pustaka, 2007). Hal. 81.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar